Pemerintah Sri Lanka meminjam utang ke China untuk sejumlah proyek infrastruktur sejak 2005 seperti pembangunan jalan raya, bandara, pembangkit listrik tenaga batu bara, hingga salah satunya pembangunan pelabuhan Hambantota. Sayangnya sebagian proyek malah dinilai tak memberi manfaat ekonomi bagi negara itu.
Sebagian proyek itu disebut-sebut menjadi ‘gajah putih’, atau sesuatu yang tampak berharga padahal tidak berguna dan merugikan.
Pada 2017, Sri Lanka juga harus menyewakan pelabuhan Hambantota karena tak bisa balik modal.
Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa awal tahun ini meminta China untuk membantu merestrukturisasi utang negaranya.
Permintaan keringanan pembayaran utang itu diajukan dalam pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di Kolombo. (ral/rmol/pojoksatu)






