Wasapada Laut Sukabumi di Akhir Tahun

Gelombang-Tinggi-Sukabumi

SUKABUMI – Di akhir tahun ini, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandung, menghimbau kepada seluruh warga Kabupaten Sukabumi, khususnya yang tinggal atau beraktivitas di sepanjang pesisir pantai lautan lepas Selatan Sukabumi untuk meningkatkan kewaspadaanya. Ini mengenai potensi gelombang tinggi yang kemungkinan terjadi.

Bahkan saat ini pun, di wilayah perairan lautan lepas Selatan Sukabumi, tepatnya di pesisir pantai Ujunggenteng, Desa Ujunggenteng, Kecamatan Ciracap, gelombang tinggi sudah terjadi selama tiga hari terakhir. Akibatnya, puluhan perahu dan sejumlah bangunan rusak berat dan ambruk diterjang gelombang pasang pada Selasa (07/12).

Bacaan Lainnya

“Namun, gelombang pasang paling parah terjadi saat ini (kemarin. red). Kalau sebelumnya, gelombang hanya menerjang atau merusak 30 kapal nelayan.

Namun hari ini (kemarin. red) gelombang selain merusak 20 lebih perahu nelayan, menyebabkan kerusakan bangunan penduduk yang berada di pinggiran pantai,” kata Ketua Rukun Nelayan Pantai Ujung Genteng, Asep JK kepada Radar Sukabumi, Selasa (07/12).

Gelombang dengan ketinggian lebih dari empat meter itu, terjadi sejak pada Senin (06/12) malam sampai Selasa (07/12) pagi. Puluhan perahu nelayan tersebut, telah dihantam gelombang pasang saat tengah berada di lokasi parkiran pantai Ujunggenteng.

“Kalau sebelumnya kerusakan perahunya hanya ringan saja. Namun, karena sekarang gelombangnya sangat besar, perahu nelayan mengalami kerusakan berat atau hancur. Bahkan, tujuh gudang yang dijadikan sebagai tempat pemukiman warga ambruk diterjang gelombang pasang,” paparnya.

Gelombang pasang itu, terjadi mulai dari sepanjang garis pantai Pangumbahan sampai Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ujunggenteng. Namun yang paling parah, warga terkena dampak berada di kawasan Kalapacondong.

“Akibat bencana itu, kurang lebih 10 kepala keluarga mengungsi ke rumah keluarga atau saudara terdekatnya. Lantaran, bangunan rumah yang mereka tinggali, ambruk diterjang gelombang pasang,” beber Asep.

Meski tidak ada korban jiwa, namun akibat bencana alam itu menelan kerugian materil ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. Karena, dalam satu perahu itu, harganya Rp35 juta. Sementara, perahu yang rusak lebih dari 20 unit. Belum lagi bangunan penduduk yang ambruk ada tujuh unit.

“Saat ini, kami bersama warga dan para nelayan tengah meningkatkan kewaspadaan. Dikhawatirkan, terjadi gelombang susulan yang lebih tinggi atau besar lagi.

Kita juga terus tidak henti-henti menghimbau kepada para nelayan dan warga, jika melihat potensi gelombang pasang, agar segera mengevakuasi sedini mungkin untuk meminimalisir terjadinya resiko bencana,” tandasnya.


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *