SUKABUMI — Selasa pagi itu, ketenangan warga di utara Kabupaten Sukabumi mendadak terusik. Jam menunjukkan pukul 10 lewat delapan menit, ketika bumi berguncang seakan ada truk berat melintas di depan rumah. Magnitudo 3,2 memang bukan angka besar, tetapi cukup membuat benda-benda gantung bergoyang dan hati warga berdebar.
Di Kalapanunggal dan Kabandungan, getaran terasa nyata. “Seperti ada yang mengetuk lantai rumah,” ujar seorang warga, menggambarkan sensasi singkat namun jelas. Sementara di Leuwiliang, beberapa orang yang sedang beristirahat merasakan kursi bergeser pelan.
BMKG memastikan, episenter gempa berada di darat, hanya 26 kilometer dari pusat Kabupaten Sukabumi, dengan kedalaman sangat dangkal: 6 kilometer. “Ini adalah gempabumi dangkal akibat aktivitas sesar aktif setempat,” jelas Teguh Rahayu, Kepala Stasiun Geofisika Bandung.
Meski tidak menimbulkan kerusakan, gempa ini menjadi pengingat bahwa Sukabumi berada di wilayah rawan. BMKG menegaskan belum ada tanda-tanda gempa susulan, namun imbauan tetap disampaikan: warga diminta memeriksa kondisi rumah sebelum kembali beraktivitas, dan hanya mempercayai informasi resmi dari kanal BMKG.
BPBD Kabupaten Sukabumi pun bergerak cepat. Melalui jaringan WhatsApp Group P2BK di seluruh kecamatan, laporan dipantau hingga pukul 11 siang. “Alhamdulillah, situasi wilayah terpantau aman kondusif,” kata Daeng Sutisna, Manager Pusdalops BPBD.
Bagi warga, gempa ini bukan sekadar angka di layar seismograf. Ia adalah pengalaman nyata yang mengingatkan betapa rapuhnya daratan, sekaligus betapa pentingnya kesiapsiagaan. Sukabumi kembali belajar: bumi bisa berbicara kapan saja, dan kita harus selalu siap mendengarnya.(den/d)




