BERITA UTAMA

Potret Keseruan Tangkap Impun di Muara Sungai Cimaja Sukabumi

×

Potret Keseruan Tangkap Impun di Muara Sungai Cimaja Sukabumi

Sebarkan artikel ini
Suasana warga saat menangkap Ikan Impun di Muara Sungai Cimaja, Cikakak Sukabumi. Jumat (25/4/2025).(FOTO : NANDI/ RADARSUKABUMI)
Suasana warga saat menangkap Ikan Impun di Muara Sungai Cimaja, Cikakak Sukabumi. Jumat (25/4/2025).(FOTO : NANDI/ RADARSUKABUMI)

SUKABUMI — Suasana penuh semangat dan keseruan terlihat di Muara Sungai Cimaja, Desa Cimaja, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi pada Jumat (25/4/2025) sore hari menjelang malam.

Ratusan warga dari berbagai kampung di Desa Cimaja dan Karangpapak Cisolok tumpah ruah untuk menangkap ikan impun, sebuah tradisi musiman yang selalu dinanti setiap bulannya. 

Bank bjb Tandamata

Proses menangkap ikan Impun ini sudah terjadi sejak tiga hari terakhir, area muara Cimaja disesaki masyarakat yang datang sejak dini hari, sekitar pukul 03.00 WIB, dan kembali memadati lokasi pada sore hari sekitar pukul 14.30 WIB. 

Masyarakat yang datang membawa berbagai peralatan tradisional seperti serok jaring (Sirib) hingga ember (Tolok) guna menangkap ikan impun yang bermigrasi ke muara sungai saat musim tertentu.

Salah seorang warga Desa Cimaja, Nurman (44), mengatakan bahwa fenomena kemunculan ikan impun ini sudah menjadi kebiasaan turun-temurun yang dinanti oleh masyarakat setempat setiap tanggal 25 setiap bulannya.

“Sudah tiga hari ini ramai terus. Dari pagi buta sampai sore warga berdatangan. Momen seperti ini memang ditunggu-tunggu, soalnya ikan impun munculnya musiman. Selain buat konsumsi pribadi, banyak juga yang dijual,” ungkap Nurman.

Lebih jelas Nurman mengatakan Ikan impun yang berukuran kecil dan bergerombol ini biasanya ditangkap saat air laut pasang atau saat air sungai menjadi lebih keruh, yang memudahkan warga menangkapnya dalam jumlah banyak dengan menggunakan alat yang disebut sirib atau sirip.

Tidak hanya menjadi ajang menangkap ikan impun, kata Nurman lagi momen ini juga menjadi sarana berkumpul dan bersosialisasi bagi masyarakat sekitar. Anak-anak hingga orang tua tampak antusias, menyatu dalam semangat kebersamaan.

“Kalau lagi musimnya seperti sekarang, suasananya ramai seperti pesta. Selain hasilnya bisa dibawa pulang, rasa kebersamaannya juga terasa. Ini bukan hanya soal ikan, tapi juga soal kebudayaan lokal yang harus dijaga sampai nanti,” tambah Nurman.