“Kami ini petani kecil dengan biaya terbatas. Baru tanam padi, eh langsung terendam. Kami mohon perhatian dari pemerintah. Jangan sampai petani terus jadi korban. Kalau gagal tanam, bagaimana bisa mendukung swasembada pangan? Kami butuh solusi konkret,” tegas Endang.
Masih ditempat yang sama, salah seorang warga terdampak, Ibu Enan, mengaku sudah mulai khawatir setiap kali hujan turun dengan intensitas tinggi. Menurutnya, banjir selalu terjadi setelah hujan deras, terutama dalam beberapa waktu terakhir.
“Kemarin pas hujan besar dari abis Dzuhur, air naik ke jalan, ke rumah. Pagi tadi baru tanam lagi, siangnya hujan, sawah langsung habis lagi. Hampir tiap hujan deras sekarang begini,” ujarnya.
Enan juga mengeluhkan, perihal belum adanya bantuan konkret dari pemerintah selain dokumentasi saat kejadian.“Belum ada bantuan apa-apa, paling kemarin dari desa cuma datang buat foto-foto pas banjir, habis itu belum ada lagi kabar,” keluhnya.
Ia berharap agar pemerintah segera mengambil langkah perbaikan, terutama pada bendungan dan aliran sungai, agar banjir tidak terus mengancam rumah warga.
“Kalinya tolong diperbaiki, jangan sampai air naik ke rumah terus. Takut juga kalau ada ular masuk pas air tinggi begitu,” tambah Enan.
Warga berharap ada langkah nyata dari pemerintah daerah maupun instansi terkait untuk mengatasi persoalan banjir yang terus berulang, agar aktivitas pertanian dan kehidupan sehari-hari bisa kembali berjalan normal.
“Kami berharap pemerintah segera turun tangan untuk membantu para petani yang terdampak serta mencari solusi jangka panjang agar bencana serupa tidak terus berulang,” tukasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Sukasirna, Deni Riswandi, menyatakan bahwa banjir memang kerap terjadi saat hujan deras, namun intensitasnya kali ini tergolong parah.
“Dari dulu memang sering terjadi banjir saat hujan besar, tapi beberapa minggu terakhir ini curah hujan terlalu tinggi. Selain faktor alam, ada juga pengaruh dari perkebunan sawit. Sekarang sawitnya sedang mati, jadi sisa airnya mengalir ke perkampungan,” jelas Deni.
Ia menambahkan, penyempitan sungai akibat aktivitas warga juga menjadi penyebab memburuknya situasi. Sungai yang dulunya memiliki lebar empat meter, kini menyusut hanya menjadi satu meter, dengan kedalaman yang juga menurun.
“Mungkin karena warga yang menggarap sawah ingin memperluas lahan pertanian, akhirnya badan sungai ikut dikorbankan. Sungai jadi makin kecil, ini yang harus segera diantisipasi. Harus ada pelebaran sungai dan pembersihan sampah,” ujarnya.
Tiga kampung terdampak paling parah akibat banjir ini, yakni Kampung Pangasahan, Babakan Banten, dan Kampung Cieurih. Air bahkan sempat mencapai ketinggian setengah meter di beberapa titik pemukiman warga.






