Pahrul menambahkan, akses menuju sekolah yang berbatu dan licin semakin menyulitkan guru dan siswa, terutama saat hujan. Bahkan, satu ruang kelas di SMP terpaksa digunakan oleh siswa SD karena kekurangan ruangan. “Kadang terpaksa meliburkan sekolah demi keselamatan siswa. Apalagi jarak rumah guru dan kepala sekolah cukup jauh,” tambahnya.
Kedua sekolah juga menghadapi keterbatasan tenaga pendidik. Dari total tujuh guru, hanya tiga yang berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN), sisanya merupakan guru honorer atau diperbantukan.
Para guru berharap pemerintah segera turun tangan memperbaiki gedung sekolah demi keselamatan dan kenyamanan belajar siswa. “Kami hanya ingin anak-anak bisa belajar dengan tenang dan aman, tidak lagi was-was ketika hujan turun,” harap Habudin.(ndi/d)




