SUKABUMI — Tradisi Sakral terlihat saat ribuan masyarakat dari berbagai penjuru Kabupaten Sukabumi dan luar daerah memadati area lapang Rumah Gede di Kampung Sinar Resmi, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Minggu (13/7). Mereka hadir untuk menyaksikan prosesi sakral upacara adat Seren Taun ke-446 yang digelar khidmat di lingkungan Kampung Adat Kasepuhan Sinar Resmi.
Tradisi tahunan ini merupakan bentuk syukur masyarakat adat kasepuhan atas hasil panen yang berlimpah. Puncak prosesi ditandai dengan ritual Ngampih Pare ka Leuit, yakni memasukkan ikatan padi ke dalam lumbung adat (Leuit) Si Jimat. Ritual dipimpin oleh Sesepuh Adat Kasepuhan Sinar Resmi, Abah Asep Nugraha, dalam suasana penuh haru dan kekhusyukan.
“Seren Taun bukan sekadar upacara tahunan, tetapi doa bersama untuk masa depan yang penuh berkah. Ini adalah bentuk penghormatan terhadap alam dan Sang Pencipta,” tutur Abah Asep dalam sambutannya.
Abah Asep menegaskan pentingnya pelestarian nilai-nilai tradisional di tengah arus modernisasi, agar tetap menjadi warisan hidup bagi generasi mendatang.
Rangkaian kegiatan budaya turut memeriahkan upacara adat ini, mulai dari prosesi tumbuk padi, saresehan baris olot kasepuhan, hingga berbagai pertunjukan seni budaya Sunda seperti dogdog lojor, gondang buhun, tari tani, rengkong, serta persembahan seni dari generasi muda kasepuhan ( incu putu).
Wakil Bupati Sukabumi, Andreas, yang hadir mewakili Bupati Asep Japar, menyampaikan apresiasi atas keberlangsungan tradisi Seren Taun yang telah bertahan selama lebih dari empat abad.
“Seren Taun ini adalah bukti nyata ketahanan budaya yang berpadu dengan ketahanan pangan berbasis kearifan lokal. Ini adalah kekuatan bangsa yang harus terus dijaga,” ujar Andreas.
Ia juga mengaku kagum melihat padi yang tersimpan di leuit adat selama puluhan tahun, bahkan ada yang telah berusia lebih dari 90 tahun, sebagai bentuk nyata praktik kemandirian pangan masyarakat adat.






