SUKABUMI – Hari pertama masuk sekolah di bulan Ramadan, Senin (23/2), suasana dunia maya riuh oleh perbincangan soal Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Foto dan video yang beredar menunjukkan paket menu “keringan” berupa roti kemasan, biskuit, kue kering atau wafer, lengkap dengan susu kotak.
Skema menu praktis ini dinilai memudahkan distribusi selama Ramadan karena tidak memerlukan penyajian rumit di sekolah. Namun, publik mempertanyakan kesesuaian komposisi dengan tujuan program. Kritik utama menyoroti dominasi karbohidrat sederhana dan gula, sementara kandungan protein serta serat dianggap minim.
Sejumlah komentar menyebut, asupan tinggi gula hanya memberi energi sesaat. Dalam konteks Ramadan, hal ini dikhawatirkan berdampak pada daya tahan tubuh dan konsentrasi belajar siswa yang sedang berpuasa.
Perbincangan pun melebar ke soal anggaran. Warganet membandingkan harga roti dan susu di pasaran dengan estimasi biaya per porsi yang ramai disebut. Di Kota dan Kabupaten Sukabumi, kritik serupa muncul, menyoroti harga komoditas yang dianggap lebih rendah dari taksiran total biaya. Meski demikian, belum ada penjelasan rinci mengenai komponen lain seperti distribusi, pengemasan, operasional dapur SPPG, serta tenaga kerja yang mungkin memengaruhi total anggaran.
Sejumlah pemerhati pendidikan menilai polemik ini seharusnya menjadi momentum evaluasi. Jika menu kering tetap digunakan selama Ramadan, komposisi dinilai perlu disempurnakan dengan tambahan sumber protein seperti telur, kacang-kacangan, atau olahan kedelai, serta buah segar untuk melengkapi vitamin dan serat.






