BERITA UTAMA

Kisah Syakira Caringin Menanti Uluran Tangan Negara

×

Kisah Syakira Caringin Menanti Uluran Tangan Negara

Sebarkan artikel ini
DITINJAU : Pemerintah Kecamatan Caringin bersama tim Nakes dari Puskesmas saat meninjau Syakira Auni Azmi (7) di rumah kediamannya, tepatnya di Kampung Panagan, Desa Pasir Datar Indah, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi, belum lama ini.
DITINJAU : Pemerintah Kecamatan Caringin bersama tim Nakes dari Puskesmas saat meninjau Syakira Auni Azmi (7) di rumah kediamannya, tepatnya di Kampung Panagan, Desa Pasir Datar Indah, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi, belum lama ini.

SUKABUMI — Di sebuah sudut sunyi di Kampung Panagan, Desa Pasir Datar Indah, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi, hidup seorang ibu bernama Aidah yang selama tujuh tahun terakhir merawat putrinya, Syakira Auni Azmi, dalam keterbatasan dan keteguhan hati.

Syakira, bocah perempuan berusia tujuh tahun, lahir dengan kondisi medis langka yang membuat matanya tak bisa tertutup sempurna dan bibir atasnya tak bergerak. Sejak lahir, ia tak pernah menangis, tak pernah mengeluh, hanya menatap lurus dunia yang tak selalu ramah padanya.

Bank bjb Tandamata

Aidah mengenang hari kelahiran Syakira di RS Betha Medika, saat tubuh mungil putrinya membiru dan tak bersuara. Sejak itu, perjalanan panjang pengobatan dimulai, dari RSUD Sekarwangi hingga Rumah Sakit Mata Cicendo di Bandung. Namun, harapan itu perlahan memudar ketika para dokter menyatakan bahwa kondisi Syakira adalah kasus langka yang belum pernah mereka temui. Tak ada nama sindrom, tak ada prosedur operasi, hanya perawatan paliatif dan kehati-hatian ekstra agar matanya tak terinfeksi debu atau angin.

Meski BPJS menanggung biaya medis, Aidah harus mengeluarkan uang sendiri untuk transportasi ke rumah sakit, yang bisa mencapai seratus ribu rupiah sekali jalan beban berat bagi keluarga yang hanya bergantung pada penghasilan suami sebagai buruh kebun. Di tengah perjuangan itu, yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa selama tujuh tahun, tak ada satu pun bantuan dari pemerintah yang diterima. Aidah berjuang sendiri, tanpa uluran tangan negara, hanya berharap suatu hari ada yang peduli.

Puskesmas setempat telah mencoba mengajukan bantuan, namun belum ada tindak lanjut. Camat Caringin, Ridwan Agus Mulyawan, membenarkan bahwa keluarga Syakira belum terdeteksi dalam sistem bantuan sosial karena lokasi mereka yang terpencil. Ia berjanji akan menelusuri kemungkinan memasukkan keluarga ini ke dalam data Program Keluarga Harapan (PKH), meski secara anggaran, pemerintah kecamatan tidak memiliki alokasi untuk bantuan transportasi berobat.

Kini, Aidah hanya bisa berharap, semoga suara lirihnya sampai ke telinga para pemangku kebijakan. Bahwa di balik angka dan data, ada seorang anak kecil yang menanti keajaiban, dan seorang ibu yang tak pernah lelah memperjuangkan hidup anaknya. Bahwa negara, suatu hari nanti, benar-benar hadir.(den/d)