Dalam upaya tindakan Penangan DBD kata Lulis tidak hanya dilakukan oleh pemerintah saja akan tetapi diperlukabn peran aktif dari masyarakat. Karena dalam program Pemberantasan Saran Nyampuk (PSN) 3 M plus masyarakat merupakan faktor utamanya.
Sehingga pemerintah dan masyarakat perlu adanya sinergi sehingga dapat berkelanjutan sepanjang tahun terutama musim penghujan.
” Langkah lain juga, melalui puskesmas dan kader melalukan promisi atau sosialisasi kepada masyarakat secara berkelanjutan, “terangnya.
Munculnya kasus DBD kata Lulis tidak hanya di musim penghujan saja tapi di musim penghujan ini akan mengalami meningkat. Soalnya vektor atau perantara penyakit DBD itu nyamuk Aedes aegypt yang senang berada di tempat air yang menggenang.
Untuk itu dirinya menghibau kepada masyarakat untuk membersihkan saluran air melalui gerakan 3 M. ” Hasil penyelidikan Epidemologi ternyata air yang menggenang di rumah itu kebanyakan di tempat dispenser dan juga tempat minuman hewan peliharaan seperti Burung. Makanya lingkungan rumah harus bersih jangan sampai ada air genangan,”bebernya.
Ditambahkannya, saat ini penyakit DBD yang diakibatkan virus Dengeu melalui perantara nyamuk Aedes aegypti betina ini mengalami perkembangan penularannya. Transmisi virus dengue umumnya terjadi secara horizontal, yaitu dari manusia pembawa virus dengue ke nyamuk vektor Aedes sp. melalui aktivitasnya mengisap darah. “
Setelah mengalami propagasi dalam tubuh nyamuk, virus dengue ditularkan ke manusia penerima,” katanya.
Selain itu juga transmisi virus terjadi secara vertikal (transovarial) yaitu virus dengue dalam tubuh nyamuk vektor Aedes sp betina ke ovum, kemudian berpropagasi dalam ovum, larva, pupa, dan imago.
” Jadi telur nyamuk itu sudah membawa virus dengeu. Transmisi transovarial virus dengue ke vektornya di daerah endemik bisa menjadi kunci penyebab yang bertanggung jawab terhadap fenomena peningkatan kasus deman berdarah dengue,” pungkasnya. (bal)






