Ia juga menjelaskan bahwa gorengan tahu tersebut belum sempat dikonsumsi oleh siswa dan baru diketahui malam hari oleh orang tua siswa. “Makanan itu belum dimakan. Jadi saya rasa tidak perlu dibesar-besarkan,” tambahnya.
Iis menegaskan bahwa pihak sekolah hanya bertugas membagikan dan memantau pembagian makanan, sementara pengawasan isi makanan berada di luar kendali guru. “Guru tidak tahu isi makanan sebelum dibuka. Kalau anaknya membuka di sekolah, mungkin kami tahu lebih cepat,” ujarnya.
Meski insiden tersebut sempat viral, Iis menyatakan tidak khawatir terhadap keberlanjutan program MBG. Ia berharap kejadian ini menjadi pembelajaran bagi penyedia makanan untuk lebih teliti. “Insyaallah tidak khawatir. Ini jadi pelajaran bagi semua pihak,” katanya.
Sebagai refleksi, Iis juga menyarankan agar ke depan menu MBG lebih banyak menyajikan makanan kering yang lebih tahan lama dan tidak mudah rusak. “Kalau bisa lebih sering sajikan makanan kering. Makanan basah cepat basi dan mubazir. Itu uang negara,” pungkasnya.(den/d)






