Indahnya, Tercoreng Pengelolaan Wisata yang Buruk, Ini Buktinya..

BERWISATA : Keindahan Curug Cikaso yang berada di Kampung Ciniti Desa dan Kecamatan Cibitung, Kabupaten Sukabumi.

SUKABUMI — Jika berbicara wisata di Kabupaten Sukabumi seakan tidak akan habisnya. Betapa tidak, wilayah kabupaten yang memiliki 47 Kecamatan ini hampir disetiap Kecamatannya memiliki potensi wisata yang cukup bagus. Namun, keindahan tersebut seakan tidak sempurna ketika pengeloaan wisata yang cenderung buruk.

Hal seperti itu muncul ketika salah seorang wisatawan menyuarakan kegeliasahan hatinya lewat media sosial, usai berkunjung ke tempat wisata Curug Cikaso. Wisatawan yang mengaku datang ke Curug Cikaso mengaku kecewa dengan manajerial serta pengelolaan kawasan wisata tersebut.

Bacaan Lainnya

Dalam cuitan salah satu warganet, wisatawan tersebut datang ke Curug Cikaso destinasi wisata yang berada di Kampung Ciniti Desa dan Kecamatan Cibitung, mengeluh soal pembayaran tiket yang terjadi beberapa kali dan terkesan mahal.

Selain itu, fasilitas di lokasi air terjun yang terkenal keindahannya kurang terawat hingga tidak bisa digunakan dengan baik oleh para wisatawan. Pahala Curug tersebut masuk bagian dari kawasan Geopark Ciletuh yang telah diakui keberadaannya oleh dunia.

Tidak hanya kisah keluhan wisatawan yang datang ke Curug Cikaso, salah satu wisatawan juga membagikan kisahnya usai datang ke kawasan Pantai Minajaya yang berada di Kecamatan Surade. Dalam cintanya, dirinya memperlihatkan karcis masuk ke Pantai Minajaya senilai Rp 27 ribu, namun dirinya juga ditawari jika membayar Rp 18 ribu tetapi tidak mendapatkan karcis.

Diketahui, Pemerintah daerah Kabupaten Sukabumi sudah memberlakukan retribusi resmi untuk wisatawan sejak 2011. Sesuai retribusi, masyarakat yang ingin mengunjungi tempat wisata Curug Cikaso harus merogoh kocek lumayan dalam. Rp3 ribu per orang, dan biaya parkir sesuai kendaraan yang dibawa, motor Rp7 ribu, mobil Rp 15 ribu, bus besar Rp 35 ribu.

Direktur Lembaga Analisa dan Transfaransi Sukabumi (Latas), Fery Permana menyikapi berlantai carut marut pengelolaan wisata di Kabupaten Sukabumi, pihaknya melihat perlu adanya reformasi di tubuh Pemerintah Kabupaten Sukabumi terkait persoalan klasik pada sektor pariwisata.

“Intinya revolusi birokrasi di tubuh pariwasata harus benar benar dilakukan, sehingga harapannya mampu mengelola dengan baik, mulai dari pelayanan kepada wisatawan hingga pengelolaan tempat wisatanya,” jelasnya kapada Radar Sukabumi, Minggu (27/12).

Tidak hanya itu, demi suksesi revolusi kepariwisataan di Kabupaten Sukabumi, semua pihak harus terlihat, khususnya masyarakat. Sehingga, jangan sampai wisatawan yang datang ke Sukabumi merasa kapok.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *