Kendati demikian karena baru pulang dari daerah Jakarta, sambung EN, dirinya mengikuti anjuran pemerintah yang mengharuskan esolasi mandiri selama 14 hari. “Meski kondisi saya sehat, tapi untuk pencegahan saya mengikuti anjuran pemerintah yang mengharuskan esolasi secara mandiri selama 14 hari,” ujarnya.
Sementara itu, salah seorang Satgas Covid-19 sekaligus Kepala Seksi (Kasi) Kedaruratan BPBD Kabupaten Sukabumi, Eka Widiaman menjelaskan, sterilisasi dan pendataan bagi warga yang pulang mudik dari daerah luar Sukabumi tepatnya di Terminal Benda Cicurug ini dilakukan setiap Jumat, Sabtu dan Minggu.
“Kegiatan seterilisasi dan pentaan ini dilakulan selama tiga hari dalam satu minggu yang dipusatkan di dua titip perbatasan yakni, Perbatasan Bogor-Sukabumi dan Cianjur-Sukabumi,” jelasnya.
Dalam kegiatan tersebut, semua kendaraan dari luar daerah Sukabumi dilakukan penyemprotan menggunakan cairan disinfektan sementara untuk orangnya diseprot menggunakan antiseptik.
“Semua kendaraan baik kendaraan umum maupun kendaran pribadi kita hentikan untuk dilakukan sterilisasi dan pendataan,” ucapnya.
Disinggung soal banyaknya pengendara yang menggunakan jalan tikus atau alternatif Bogor-Sukabumi, Eka mengaku, Satgas Covid-19 mulai Jumat mendatang bakal menambah titik seterililasi termasuk di jalur alternatif Kabandungan.
“Kami akan penambahan titik sterilisasi pada Jumat depan. Seperti, daerah Kebandungan, Cisolok dan Tegalbuled. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi adanya pemudik yang menggunakan jalan alternatif sehingga semuanya bisa dilakukan seterilisasi dan pendataan terlebih dulu,” pungkasnya.
Aktivitas kinerja Satgas Pencegahan Covid-19 Kabupaten Sukabumi, dinilai lalai dalam menangani pencegahan dan penularan virus corona atau Covid 19. Hal tersebut, terbukti masih banyak warga dari luar daerah yang terpapar Covid 19 atau zona merah yang masuk ke daerah Sukabumi. Bahkan, baru-baru ini terdapat 16 remaja asal Bogor yang nekat menerobos masuk ke Sukabumi.






