Data dan Fakta SDN Simpenan Sukabumi Belum Mendapat Perhatian

SDN-Simpenan

SUKABUMI – Miris! Kata itulah yang bisa menggambarkan nasib puluhan anak SD Negeri Simpenan di Kampung Simpenan, jalan Limus Nunggal, Desa Pasir Suren, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. Mereka terpaksa harus belajar dilantai.

Ruang yang biasa digunakan untuk kegiatan belajar mengajar (KBM) tak bisa digunakan lagi akibat sudah lapuk. Selain itu, sejak 2006 hingga saat ini, ruangan tempat mereka menimba ilmu belum mendapat perhatian. “Bangku untuk belajar juga rusak, sehingga terpaksa mereka belajar dilantai,” ucap Ketua Komite SDN Simpenan, Jamaludin.

Bacaan Lainnya

Terdapat dua ruang kelas yang rusak yakni kelas II dan kelas III dengan jumlah siswa dan siswi sebanyak 25 orang. Akhir-akhir ini, karena kondisi cuaca masih ekstrim, terpaksa para siswa dan siswinya harus belajar di ruang perpustakaan yang sempit. Juga tak menggunakan meja belajar seperti layaknya sekolah lain.

“Ruang kantor sementara pindah ke perpustakaan (Perpus). Kelas III dan II juga belajarnya pindah di perpus sebagian. Untuk kelas III ada hanya 25 siswa. Karena ruangannya rusak, jadinya kesini di perpus. Jadi mereka pindah ruang belajar mulai Juli 2022 lalu,” sambungnya.

SDN Simpenan Sukabumi
Siswa kelas II dan III SDN Negeri Simpenan, Desa Pasir Suren, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi terpaksa belajar di ruang perpustakaan

Hal itu dilakukan, karean khawatir dengan kondisi sekolah yang rusak. Apalagi di bagian atapnya sudah tak memungkinkan lagi untuk ditempati. Ditambah sering diguyur hujan, sehingga kerusakan semakin parah.

“Memang kalau hujan, air masuk ke dalam semua. Jadi kalau dibiarkan di sana, nyawa siswa terancam jiwanya. Kepala sekolah mengambil inisiatif, walaupun di ruang perpusatakaan begitu sempit, apa boleh buat. Karena kalau anak-anak dipaksakan di ruang kelas, mahal justru berbahaya,” jelas Jamaludin.

Sejauh ini, sudah ada dari pihak kecamatan dari bagian sarana dan prasarana juga dari pemerintah kabupaten hadir meninjau, melihat bangunan yang kondisinya rusak.

“Menurut informasi, tahun 2022 akhir ini mau direhab. Sebelumnya pernah ada perbaikan tahun 2006 di ruangan yang rusak itu. Dua lagi yang sekarang di isi kelas 4 dan 5, itu tahun 2008 direhabnya. Jadi sampai sekarang sudah hampir 15 tahun belum ada perbaikan lagi.

Sekarang itu atapnya bocor. Itu atasnya pakai bambu sudah pada patah, takutnya nanti kalau sedang belajar roboh kalau dipakai,” tambahnya.

Sementara itu, salah seorang pelajar kelas V, Sahrul Hidayat mengungkapkan sebelum pindah belajar selalu merasa was-was dan ketakutan. “Kondisi ruangan kurang nyaman, takut roboh, atap pada bocor, bangku juga pada rusak,” tandasnya. (cr2/t)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *