Pak Dahlan pun memenuhi janjinya, saya diberikan saham lima persen. Maka, resmi-lah saya menjadi salah satu pemilik Radar Bogor. Pemilik saham pemberian itu.
Saya dibesarkan oleh pendidikan agama sejak tingkat dasar sampai tingkat atas. Lalu belajar ilmu kependidikan di perguruan tinggi negeri kependidikan. Kemudian belajar prinsip-prinsip bisnis dan managemen.
Agama mengajarkan, hari ini harus lebih baik dari kemaren. Dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Ilmu-ilmu kependidikan membimbing pikiran bahwa proses dan hasil harus didahului perencanaan yang terukur. Itu menjadi pegangan dasar saya memimpin selama 21 tahun itu.
Ketika ekonomi dalam keadaan sulit, ketika prilaku konsumen berubah, ketika media sosial marajai kehidupan, banyak perusahaan media gulung tikar. Tetapi Radar Bogor masih bisa bertahan di tengah persaingan yang makin ‘berdarah-darah’ ini.
Prinsip-prinsip berfikir yang ditanamkan kepada karyawan tahun-tahun terakhir antara lain inovatif dan kreatif. Berfikir inovatif, berfikir kreatif untuk menghasilkan produk yang kompetitif.
Kita lalu membuat apa yang disebut Creative Centre. Di situlah anak-anak muda berkreasi menghasilkan produk-produk terbaik, termasuk untuk media sosial.
Kalau Radar Bogor sering memenangkan kompetisi produk entah di Jawa Pos atau lainnya, itu antara lain hasil dari berfikir inovatif dan kreatif itu. Radar Bogor akan terus bisa bertahan, bila prinsip-prinsip berfikir itu terus dikembangkan.
Tetapi, sejak 8 Desember 2023, dalam rapat umum pemegang saham luarbiasa (RUPS-LB) saya telah mengundurkan diri sebagai direktur Radar Bogor (PT Bogor Ekspres Media). Juga sebagai direktur PT Bogor Media Grafika, perusahaan percetakan. Saya memang direktur tunggal di dua perusahaan itu lebih dari 20 tahun.
Saya mengusulkan Nihrawati AS menggantikan saya di Radar Bogor dan Andi Ahmadi menggantikan saya di Media Grafika. Keduanya sudah cukup lama dipersiapkan, masing-masing sebagai general manager.
Rapat pemegang saham luarbiasa itu menerima usulan saya. Saya lalu diminta kesediaan menjadi komisaris, tetapi tidak bersedia. Saya menolak jabatan itu.
Saya memang tidak ingin lagi jabatan apa pun di Radar Bogor dan di Media Grafika. Kecuali meminta supaya saya diaudit. Karena sudah terlalu lama di dua perusahaan itu.
Jadi, sejak hari itu saya bukan lagi bos Radar Bogor. Bukan CEO Radar Bogor. Saham yang lima persen itu pun akan saya jual, untuk biaya di kehidupan bisnis yang baru. Sehingga nantinya saya bukan lagi pemilik Radar Bogor. Teruslah berinovasi. Teruslah berkreasi. (hs)






