BPBD Kabupaten Sukabumi Soroti Patahan Aktif Sesar Cimandiri, Begini Katanya

BPBD Kabupaten Sukabumi Tinjau Korban gempa Cianjur
DITINJAU : Petugas BPBD Kabupaten Sukabumi bersama petugas gabungan saat meninjau lokasi rumah warga yang terdampak dari guncangan gempa bumi yang diduga akibat patahan aktif sesar Cimandiri, pada beberapa waktu lalu.

SUKABUMI — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, akhirnya angkat bicara soal potensi bencana alam yang dipicu akibat patahan aktif sesar Cimandiri. Bagaimana tidak, dari 47 kecamatan yang tersebar di Kabupaten Sukabumi ini, terdapat beberapa kecamatan yang masuk pada lintasan patahan geser aktif yang dinilai pontensi terjadinya gempa masih kuat terjadi di Kabupaten Sukabumi.

Terlebih, gempa bumi yang mengguncangan wilayah Sukabumi dan Cianjur dengan kekuatan magnitudo 5,6 SR itu, bukan puncaknya dari aktivitas gempa sesar Cimandiri.

Bacaan Lainnya

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Sukabumi, Arianja Hasbulwafi kepada Radar Sukabumi mengatakan, pihaknya membenarkan terdapat beberapa kecamatan di Kabupaten Sukabumi yang masuk pada lintasan patahan sesar Cimandiri.

Sebab berdasarkan data yang dimiliki BPBD Kabupaten Sukabumi, patahan sesar Cimandiri ini, telah membentang untuk segment I di mulai dari wilayah Kecamatan Simpenan sampai masuk ke daerah Kecamatan Warungkiara. Sementara untuk segment II, mulai dari wilayah Kecamatan Nyalindung sampai daerah Cibeber Cianjur melintasi wilayah Kecamatan Gegerbitung Kabupaten Sukabumi.

“Sedangkan untuk segment terakhir itu berada di wilayah Rajamandala Cianjur. Sementara, untuk jumlah wilayah mana saja di Kabupaten Sukabumi yang dilintasi patahan sesar Cimandiri ini, belum kita ketahui. Karena, data yang kami terima dari BMKG itu, bahwa Kabupaten Sukabumi terdapat lintasan sesar Cimandiri. Yakni mulai dari segement I hingga segment II,” kata Arianja kepada Radar Sukabumi pada Minggu (27/11).

Berdasarkan data yang diterima BPBD Kabupaten Sukabumi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sambung Arianja, bahwa patahan sesar Cimandiri ini, puncak kekuatan gempa buminya terjadi di atas 6 magnitudo sampai 7 magnitodo. Untuk itu, ia menilai bencana gempa bumi yang kini telah memporak porandakan ribuan rumah penduduk di wilayah Sukabumi dan Cianjur itu, bukan puncak dari gempa bumi akibat patahan sesar Cimandiri.

“Namun, saat saya pertanyakan kalau semisal faktor pemicunya itu sesar Cimandiri, tetapi kenapa gelombang pusat getarannya berada ada di wilayah Kecamatan Sukalarang, Kabupaten Sukabumi. Sementara, dari data yang kami peroleh patahan sesar Cimandiri ini, tidak melintasi wilayah Kecamatan Sukalarang. Karena, lintasannya dari arah Nyalindung – Gegerbitung Kabupaten Sukabumi menuju Cibeber Cianjur. Makanya saya merasa tertarik dan merasa aneh,” tandasnya.

Selain itu, dirinya juga mengaku saat melakukan komunikasi bersama petugas Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di wilayah Kecamatan Curugkembar, tepatnya sewaktu meninjau lokasi terdampak bencan retakan tanah. Ia bertanya kepada petugas PVMBG bahwa bencana alam gempa bumi yang kini terjadi di wilayah Cianjur tersebut akibat sesar Cimandiri apa bukan.

“Nah, PVMBG itu menjawabnya gempa bumi di Cianjur itu bukan karena sesar Cimandiri. Tetapi, itu akibat dari sesar aktif yang belum diketahui. Jadi katanya, sesar ini tidak terlihat di satelit karena terhalang dan itu juga tidak ada hubungannya dengan Gunung Gede. Selain itu, untuk di Kabupaten Sukabumi ini, hanya ada satu sesar Cimandiri dan tidak ada sesar lainnya. Seperti sesar Balibis Kendeng berada di daerah Subang dan Cirebon, Sesar Lembang dan Sesar Garsela itu, berada di luar daerah Sukabumi,” paparnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, patahan sesar Cimandiri yang membentang di Kabupaten Sukabumi ini, berdasarkan rujukan dari BMKG, tidak berpotensi terjadinya tsunami. Karena sesar Cimandiri itu merupakan jenis gempa darat dan bukan gempa laut. Namun, meski demikian sesar Cimandiri ini dapat terjadi peluang potensi longsoran di dasar laut.

“Hal itu akan terjadi potensi bencana tsunami yang tidak bisa terdeteksi. Nah itu, yang harus diwaspadai dan untuk ketinggi gelombangnya belum bisa diketahui. Karena, belum dilakukan penelitian oleh BMKG. Sementara yang sudah dilakukan penelitian oleh BMKG itu, adalah daerah Palabuhanratu berakitan dengan pergerakan Lempeng Indo- Australi dengan ketinggian gelombang sekiter 18 meter ke atas. Untuk kesiapsiagaan bencana sesar Cimandiri itu, kita belum maksimal mengedukasi ke masyarakat, karena kita sedang fokus pada bencana hidrometeorologi,” tandasnya.

Untuk itu, masih kata Arianja, gempa bumi di Kabupaten Cianjur tersebut, terdapat pemahaman atau sudut pandang yang berbeda. Baik dari sudut pandang BMKG maupun sudut pandang dari PVMBG. Meski demikian, pihaknya menghimbau kepada seluruh warga Kabupaten Sukabumi untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaannya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *