Shin sudah sering melakukan hal itu dalam banyak kesempatan, termasuk yang paling dikenal publik saat menjungkalkan Jerman pada Piala Dunia 2018 yang saat itu berstatus juara bertahan dan berperingkat FIFA paling tinggi di dunia.
Jerman yang memainkan sepak bola tekanan tinggi disertai tempo tinggi dan membangun serangan sejak lini belakang, kalah cepat melawan Korea Selatan. Kecepatan berlari skuad Jerman saat itu adalah 27,03 km per jam, sedangkan Korea Selatan 28,18 km per jam.
Dalam kata lain, Jerman yang rata-rata pemainnya lebih tua kalah jelajah lapangan dari Korea Selatan yang rata-rata berusia lebih muda.
Cara yang sama bisa diterapkan Shin kepada Rizky Ridho cs yang merupakan skuad kedua termuda setelah Vietnam dalam Piala Asia U23 edisi 2024, untuk menjinakkan Uzbekistan yang eksplosif.
Intinya, untuk mengimbangi lawan yang terus menekan, maka bermain dalam fisik yang prima dan selalu berusaha lebih cepat dari lawan, bisa menjadi jalan untuk mencatat kemenangan bersejarah lainnya.
Bisakah Garuda Muda melakukannya? Bisa! Menjinakkan Korea Selatan yang juga selalu berusaha menjadi tim lebih menekan dari laga ke laga dan, seperti Uzbekistan, masuk gelanggang sebagai tim yang tak pernah kebobolan, adalah bukti Garuda Muda kini bisa melakukan apa saja.(*)






