“Gaya Rusia” begitu kental dalam warna sepak bola Uzbekistan, walau tim mudanya hanya diperkuat dua pemain yang berasal dari CSKA Moskow dan FC Rubin Kazan dari liga Rusia.
Kapten mereka, Jasurbek Jaloliddinov, juga membawa gaya itu, apalagi dia pernah membela Lokomotiv Moskow, yang bersama CSKA, Rubin Kazan, Zenit Saint Petersburg, dan Spartak Moskow adalah klub-klub elite sepak bola Rusia.
Mereka semua memainkan gaya sepak bola Rusia yang mengandalkan fisik dan kekuatan, yang menekankan permainan pada struktur pertahanan yang kuat, organisasi tim yang disiplin dan fokus melancarkan serangan balik.
Gaya bermain seperti ini sering membutuhkan asosiasi yang kuat antara sistem pertahanan yang disiplin dan etos bermain yang kuat. Mereka tak lelah mencari bola dan segera merebut kembali bola itu begitu kehilangan, sehingga lawan terus tertekan.
Gaya bermain ini sampai menginspirasi pelatih sepak bola terkenal Jerman, Ralf Rangnick, untuk mengembangkan apa yang disebut gegenpressing atau balas tekan (counter-pressing), setelah menyaksikan laga persahabatan antara sebuah klub Jerman melawan Dynamo Kiev pada 1983.
Gegengpressing sendiri menginspirasi sejumlah pelatih-pelatih hebat masa kini, seperti Juergen Klopp, Thomas Tuchel, dan Julian Nagelsmann.
Dynamo Kiev saat itu adalah bagian dari sistem sepak bola Soviet, sebelum masuk liga Ukraina begitu negara ini memisahkan diri dengan Soviet pada 14 Agustus 1991, 15 hari sebelum Uzbekistan juga menyatakan merdeka dari Soviet.
Hampir semua tim sepak bola negara-negara bekas Soviet, termasuk Uzbekistan, memiliki corak bermain sama yang menekankan fisik dan disiplin. Guna menghadapi tim bergaya menekan seperti Uzbekistan, balik tekan seperti dikenalkan Rangnick, adalah jawabannya.
Itu pula yang dilakukan Arab Saudi pada perempatfinal lalu. Saudi bermain agresif dengan bahkan menerapkan pola bermain man-to-man marking.
Walau tak berhasil menaklukkan Uzbekistan yang juga lawan Saudi dalam final edisi 2022, Green Falcons berhasil merontokkan dominasi Uzbekistan yang dalam tiga pertandingan sebelumnya selalu menjadi tim yang mendominasi penguasaan bola.
Dalam laga itu pula, akurasi umpan Uzbekistan jatuh dari biasanya 87 persen menjadi 71 persen. Dan untuk pertama kalinya selama turnamen ini, Uzbekistan diungguli tim lain dalam penguasaan bola.
Indonesia bisa meniru apa yang sudah dilakukan Saudi, dengan menambal kekurangan-kekurangannya agar tak bernasib sama seperti sang juara bertahan.
Tapi bisa juga tetap setia dalam formasi tiga bek seperti sudah dimainkan dalam empat laga sebelumnya. Uzbekistan sendiri tak pernah menghadapi tim yang memasang tiga bek tengah dalam sistem permainannya.
Gabungan man-to-man marking, counter-pressing, dan disiplin tinggi, bisa menjadi formula ampuh dalam memupus impian Uzbekistan menjuarai Piala Asia U23 untuk kedua kalinya setelah dua tahun lalu gagal melakukannya.
Di sini, Shin Tae-yong menjadi sangat instrumental. Kejelian dalam memasang strategi dan melibatkan pemain-pemain yang tepat yang selama ini sudah sering dia lakukan, menjadi kunci dalam pertandingan semifinal esok malam itu.






