Ditengah panasnya polemik bisnis jasa transportasi yang melibatkan pelaku usaha transportasi online dengan para awak angkutan umum konvensional, keberadaan Andong atau lebih dikenal dengan sebutan Delman nyaris terlupakan.
Padahal sesungguhnya para kusir delman inilah yang benar-benar tergerus oleh ketatnya persaingan usaha bisnis jasa angkutan.
Meski demikian, mereka masih saja tetap teguh bertahan menjalankan usaha yang telah dirintisnya sejak dahulu kala, tentunya dengan segala keterbatasan tanpa menggunakan teknologi aplikasi online maupun angkutan konvensional berpola trayek jurusan.
Laporan Subhan Jawawi
Dari belasan kusir delman yang hingga kini masih tetap eksis di Kota Sukabumi, Asep Saepullah adalah salah satunya.
Pria yang telah berusia 67 tahun ini telah menggantungkan hidupnya sejak tahun 1977 dari menarik delman.
Sudah 40 tahun lamanya dia mencari serta mengantarkan para penumpang di setiap lintasan Kota Sukabumi.
Asam garam sudah dialami Asep, terutama soal pendapatannya sebagai kusir mulai dari Rp15.000 per hari hingga Rp150 ribu.
Seluruh uang yang dihasilkan dari menarik kereta bertenaga kuda tersebut digunakan Asep untuk menafkahi keluarganya sehari-hari.
“Tahun 60-an delman sempat berjaya di daerah Sukabumi ini. Kala itu delman menjadi moda transportasi yang diandalkan oleh warga untuk berpergian.
Pria tua yang selalu mengenakan peci hitam dikepalanya ini bercerita, sebelum ramainya transportasi yang menggunakan mesin, pendapatannya sebagai kusir delman terbilang sangat menggiurkan.
“Dulu itu pendapat paling minim Rp15 dan maksimal Rp100, tapi sudah bisa menafkahi dan membeli tanah, itu saking ramainya,” ungkapnya.
Wajar saja kala itu moda transportasi umum di Kota Sukabumi hanya ada angkutan mobil jeeps wilis, itupun sangat jarang ditemukan.
Beda hal dengan delman jumlahnya menembus angka ratusan. Kini cerita itu hanya tinggal kenangan saja.
Terpenting bagi Asep maupun kusir delman lainnya hingga kini masih ada sebagian kecil warga yang tetap memanfaatkan delman sebagai transportasi.
Kini telah banyak bermunculan beragam angkutan transportasi baru mulai dari angkutan dalam kota atau angkot, ojeg dan baru-baru ini yang tengah populer adalah taksi daring atau transportasi berbasis aplikasi.
Keberadaan seluruh moda transportasi tersebut kian menghimpit keberadaan delman.
Bagi Asep maupun kusir delman lainnya, selalu berprinsip bahwa dalam menjalankan sebuah bisnis angkutan umum akan selalu diwarnai persaingan.
Situasi itu tidak perlu dirisaukan, apalagi harus terlibat gontok-gontokan. Satu hal yang harus dilakukan setiap pelaku usaha bisnis angkutan adalah senantiasa meningkatkan pelayanan kepada konsumennya agar merasakan kenyamanan.
“Saya hanya bisa berdoa saja dan selalu yakin rejeki akan selalu dapat diraih sebab sudah diatur oleh yang Maha kuasa, asalkan kita tetap menjalankan usaha, terpenting lagi selalu berupaya memberikan hal terbaik kepada konsumen,” ungkap warga Ciaul Kaler RT04/17 Kelurahan Cisarua Kecamatan Cikole ini kepada Radar Sukabumi.
Berdasarkan pantauan Radar Sukabumi, delman yang hingga kini masih tetap beroperasi jumlahnya relatif sangat terbatas.
Sarana transportasi zaman Belanda itu hanya dapat ditemukan beberapa lokasi saja, seperti di Jalan RE. Martadinata, tepatnya di depan Kantor Pajak dan di sepanjang Jalan Ciwangi.



