RADARSUKABUMI.com – Dewi Nurlaeli (40) boleh berbangga hati, lantaran makanan olahan berupa keripik pisang yang merupakan usaha keluarga yang sudah berdiri selama puluhan tahun ini digemari banyak orang. Bahkan tidak hanya warga lokal, produk yang dilabeli “Gurinyah” itu sudah mampu menembus pasar se-Indonesia. Seperti wilayah Jabodetabek, Bandung, Bali, Sumatera dan Kalimantan. Memiliki tekstur renyah dan gurih, camilan ini diklaim sehat lantaran tanpa pengawet dan pewarna.
WIDI FITRIA, Sukabumi
Pelaku industri kreatif dari Gang Siliwangi, Desa Pasirhalang, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi ini mungkin tidak pernah menyangka jika camilan berupa keripik pisangnya bakal banyak penggemarnya dan kini pelanggan setia berdatangan baik dari Sukabumi maupun luar kota.
Menurut wanita yang akrab disapa Leli, membuat keripik Gurinyah ditekuni selama kurang lebih lima tahun. Awalnya keripik pisang merupakan usaha keluarga yang dikelola oleh ibunya selama 20 tahun lebih.
Saat itu produknya memiliki brand “Citra Rasa”. Ide mengganti nama brand muncul setelah ia mengikuti kegiatan seleksi program wirausaha baru dari Dinas Perindustrian Kabupaten Sukabumi. Setelah mengikuti pelatihan dan mendapat ilmu baru, ia pun memutuskan mengganti merek dengan nama Gurinyah (Gurih dan Renyah).
“Kebetulan waktu itu ada seleksi program wirausaha baru dari dinas perindustrian, saya ikut. Dari situ dapat ilmu, pengalaman sampai akhirnya karena Citra Rasa sedikit jadul, saya ganti merk Gurinyah singkatan gurih dan renyah, jadi lebih kekinian biar masuk ke generasi milenial juga,” ucapnya kepada Radar Sukabumi, Jumat (28/12).
Tidak hanya berinovasi dengan nama baru, Leli pun mulai menambah produk yang sedang tren seperti sistik, pangsit dan seblak kering.Menurutnya, dalam sebulan membutuhkan bahan baku 1-2 kwintal. Sementara saat lebaran bisa sampai 3 kwintal. Awalnya pun sesuai pesanan kerabat yang dikenal, lama-lama mulai didistribusikan ke toko oleh-oleh seperti sejumlah swalayan dan gerai lainnya. Namun seiring berkembangnya teknologi, dirinya mulai memasarkan produk melalui media online sehingga pemasarannya berkembang hingga ke luar kota.
“Untuk keripik pisang kebanyakan konsumennya langsung datang ke rumah produksi untuk buah tangan, karena kalau melalui pengiriman paket itu jadi mudah hancur,” ucapnya. Disinggung soal harga, Keripik Pisang Gurinyah dipatok Rp15 ribu per 200 gram, Rp25 ribu per 450 gram dan Rp55 ribu per kilogram. Sementara untuk seblak kering dan sistik, dibanderol dengan harga seblak kering Rp13 ribu per 150 gram.
“Produksinya kita enggak tiap hari, tergantung dari pesanan karena kita ga pernah nyetok banyak-banyak untuk menjaga kualitas agar tetap fresh,” ucapnya. Usaha yang pernah dirintis selama puluhan tahun itu ternyata tidak semulus yang dibayangkan, Leli sendiri mengaku pernah mengalami jatuh bangunnya berwirausaha, seperti pernah mengalami sepi orderan sehingga membuatnya tak semangat.
“Jatuh bangun pasti semua juga pernah ya, tetapi kita bertahan karena melihat konsumen-konsumen setia kita, itu sih yang bikin kita bertahan,” tuturnya.Hasil kerja keras membuahkan hasil, dalam sebulan ia mampu meraup omzet jutaan rupiah. “Dari pisang saja omzetnya lumayan bisa sampai Rp5 juta, belum dari produk lain ada sekitar Rp1 juta per bulan. Untuk produk yang lain kita belum produksi banyak, karena masih fokus ke keripik pisang,” imbuhnya.
Selain itu, kecilnya omzet yang didapat setiap bulannya lantaran ia sendiri belum bisa fokus berjualan melalui online. Apalagi pengiriman mudah hancur. Untuk pemasaran ke luar kota, masih mengandalkan resseler. “Jadi untuk luar kota paling dibawa reseller aja, kalau mereka pada pulang ke Sukabumi,” terangnya yang menargetkan tahun depan akan berinovasi kemasan yang aman untuk pemasaran luar kota supaya omzet naik. (*)




