Salah satu pemandangan di ajang Big Bad Wolf adalah para konsumen yang melayani jasa titip (jastip). Kadang melibatkan saudara, teman, hingga pasangan. Mereka selalu terlihat mendorong troli yang penuh dengan tumpukan buku.
DRIAN BINTANG SURYANTO
FENOMENA jastip sebenarnya bukan barang baru. Awalnya bukan untuk buku, melainkan produk sehari-hari seperti tas, baju, dan kosmetik. Mereka membelikan barang yang diminta konsumen secara online dengan imbalan tertentu. Awalnya bersifat membantu teman dan saudara.
Namun, fenomena tersebut kini menjadi peluang usaha baru. Salah satunya ajang BBW. Bahkan, preview day yang dihelat perusahaan ritel buku asal Malaysia itu kini sebagian besarnya para jastiper, sebutan bagi mereka yang menyediakan jasa titip. Salah satunya Henny Liem. Ibu dua anak itu baru saja memulai usaha sebagai jastiper di BBW tahun ini.
Dia mendapatkan ide tersebut setelah menerima banyak sekali titipan dari kerabatnya di luar kota. Dari bibir ke bibir, peminat jasa penitipan Henny semakin bertambah. Melihat peluang usaha, dia resmi mendirikan jastip.’’Saya tidak ambil banyak kok untungnya, maksimal cuma Rp15 ribu satu buku,’’ ucapnya.
Untuk buku yang berukuran kecil, Henny hanya mematok Rp5 ribu. ’’Total jatuhnya bagi konsumen tetap lebih murah ke timbangmencari sendiri,’’ ucap perempuan asli Tarakan, Kalimantan Utara, tersebut.Henny biasanya hunting selepas magrib. ’’Ya, namanya ibu-ibu kan punya tugas sendiri. Baru agak santai sesudah magrib,’’ katanya.
Tidak ada batasan waktu bagi Henny dalam memburu buku. Namun, dia juga tidak akan terjaga hingga tengah malam. Meskipameran tersebut buka 24 jam. ’’Harus punya daftar dulu atau membuat live shopping di media sosial secara terbatas,’’ jelasnya.’’Ada triknya sendiri mana buku yang paling banyak laku dan yang tidak,’’ tambahnya.
Menurut Henny, yang paling laku buku anak-anak. Apalagi, buku anak-anak di BBW sangat variatif. Sebagai seorang ibu, Henny merasa memiliki insting. Buku mana yang sekiranya bagus untuk seorang anak. ’’Apalagi kalau packaging-nya menarik sepertiada stikernya, posternya, dan lainlain,’’ ucap Henny.
Selain Henny, ada jastiper lainnya. Jika Henny hanya dijalankan seorang, jasa titip yang satu ini justru dilakukan tiga orang berbeda. Jastip tersebut bernama Back Book. Penyedia layanan jasa tersebut adalah Nurul Mariyami Hidayah, Lely Eka Nur Fitri, dan Nita Nadhifa. Ketiganya merupakan mahasiswi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA).
Beranjak dari minat baca, tiga sekawan itu berencana me manfaatkan momen tersebut. Berbeda dengan Henny yang pelangganawalnya kerabatnya sendiri. Back Book justru memulainya sejak awal. Mereka membuat akun di Instagram bernama @jastipbbwsby16. Di situ mereka juga mencantumkan tautan untuk bergabung di grup WhatsApp. Grup tersebut berisi lebih dari 70 peserta. Kebanyakan berasal dari tautan yang dicantumkan di media sosial.
Untuk tarif, tiga orang itu menggunakan harga buku sebagai patokannya. Jika harga bukunya di bawah Rp50 ribu, mereka menambahkan tarif Rp5 ribu. Jika Rp50 ribu–Rp 150 ribu, mereka menetapkan tambahan Rp10 ribu.
Selain Henny dan Back Book, ada Hafida Indrawati. Tahun ini merupakan tahun keduanya membuka jastip di BBW. Perempuanyang akrab disapa Pipit itu mengatakan, dirinya awalnya hanya ingin membantu kerabatnya yang tinggal di Kendari, Sulawesi
Tenggara. ’’Tapi, saya sistem jual belinya tidak seperti jastip pada umumnya yang langsung live shopping dan menawarkan buku on the spot,’’ ucapnya.Pipit memilih membeli beberapa buku yang menurutnya bagus dan akan laku. Gambar buku-buku tersebut akan diambil secara
keseluruhan. Tampak depan, belakang, hingga membuat review atau sinopsis tentang isi bukunya. Dengan begitu, pelanggan tidak akan menyesal dengan buku yang dibeli. ’’Soalnya saya dulu begitu, kalap. Ah yang penting beli, cocok tidaknya urusan belakang,’’ ungkapnya.
Dia tidak mau mengulang kejadian serupa. Karena itu, Pipit mengajari pelanggannya untuk selektif. Sekali belanja, Pipit biasanya mengambil sekitar 6–10 buku. Jenisnya bermacam-macam. Mulai aktivitas hingga bukubersuara. Semua buku itu di tujukan untuk anak-anak. Sebab, buku tersebut paling sering laku.
Sekali belanja, Pipit menghabiskan uang yang lumayan banyak. Dia harus bersedia kehilangan sekitar Rp15 jutaan hanya untuk buku yang belum tentu laku. ’’Kalau memang tidak ada yang minat, saya langsung stok ke akun Instagram saya @kenyangbuku.
Jadi bisa dijual lagi,’’ paparnya.
Untuk titip buku ke Pipit, seorang konsumen tinggal membayar biaya tambahan Rp10 ribu per buku. Lain ceritanya jika bukuyang dibeli pelanggan berjumlah banyak. Dia otomatis menambahkan beberapa bahan untuk membuat bukunya aman selamadi perjalanan. Misalnya, memberikan kardus, bubble wrap, hingga kemasan tambahan.
Karena itu, biasanya ada tambahan ongkos. Dalam membuka jastip, dia memang tidak mendahulukan profit. Setidaknya seluruh penggemar buku di Indonesia mendapatkan keuntungan. Meski acaranya hanya berlangsung di dua kota. ’’Saran saja kepada pihak BBW, keamanannya ditingkatkan. Saya pernah bongkar-bongkar keranjang, eh buku saya dijarah sampai satu
troli,’’ tuturnya.
(*/c15/ano)



