EKONOMI

Dari Hobi Makan Seblak, Teh Ita Merintis Usaha dengan Omzet Jutaan

×

Dari Hobi Makan Seblak, Teh Ita Merintis Usaha dengan Omzet Jutaan

Sebarkan artikel ini
Mantri BRI Unit Karang Tengah Cibadak pada saat ikut jajan di Warung Seblak teh Ita.
Mantri BRI Unit Karang Tengah Cibadak pada saat ikut jajan di Warung Seblak teh Ita.

SUKABUMI — Ramai pembeli dari berbagai usia memenuhi sebuah warung sederhana di pinggir jalan alternatif Nagrak. Aroma kencur dan cabai yang khas menyeruak, menandai sajian seblak milik Rita Sumiati (31) atau akrab disapa Teh Ita.

Usaha ini dimulai sejak 2017, berawal dari hobi makan seblak. “Awalnya di rumah, lalu ada lahan, saya kontrak untuk buka warung. Motivasi saya sederhana: ingin sukses,” kenangnya. Dari satu panci kecil, kini warung seblak Teh Ita mampu menghasilkan omzet Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per hari.

bank BJB

Harga seblak bervariasi, mulai Rp1.000 hingga Rp70.000, tergantung pilihan topping. Menu andalan antara lain seblak siput, seblak tulang, dan seblak ceker. “Sekarang ada sembilan menu. Lokasi di jalur ramai, jadi pelanggan datang dari Parungkuda, Cibadak, bahkan arah Palabuhanratu. Kalau malam takbiran, warung ini penuh sesak,” ujarnya.

Sebelum membuka usaha, Teh Ita pernah bekerja sebagai SPG rokok dan kopi. Pengalaman itu membuatnya terbiasa melayani konsumen dengan ramah. “Kalau ada yang belum bayar, kadang saya biarkan. Yang penting pelanggan merasa nyaman,” katanya.

Dukungan BRI Unit Karang Tengah Cibadak menjadi titik balik. “Tahun 2018 saya dapat pinjaman Rp15 juta, sekarang sudah Rp100 juta. Modal itu membuat produk lebih banyak, menu bertambah, usaha lebih berkembang,” jelasnya.

Program KUR BRI dengan bunga kecil sangat membantu. “Bisa menambah variasi menu, modal lebih besar, usaha lebih maju,” tambahnya.

Seblak Teh Ita dikenal dengan rasa kencur yang kuat, berbeda dari kedai lain. “Rasa kencurnya khas, orang bilang beda dengan seblak lain. Itu yang bikin pelanggan balik lagi,” ujarnya.

Selain itu, ia sering memberi bonus. “Kalau ada yang beli Rp30 ribu, saya kasih tambahan. Itu bagian dari sodaqoh juga,” katanya.

Persaingan seblak di Sukabumi cukup ketat, karena tiap kedai punya rasa berbeda. “Lidah orang beda-beda, jadi tantangan menjaga konsistensi rasa,” jelasnya.

Meski begitu, usaha ini memberi dampak sosial. Teh Ita mampu memperkerjakan warga sekitar, menjadikan warung seblak bukan hanya tempat makan, tetapi juga ruang berkumpul masyarakat.

Teh Ita berharap dukungan BRI dan pemerintah terus berlanjut. “Semoga pinjaman lebih besar lagi, supaya usaha bisa berkembang lebih luas,” ujarnya.

Eki Dyata Fredi Setiawan, Pemimpin Cabang KC BRI Cibadak, menilai kisah Teh Ita sebagai bukti nyata peran BRI dalam mendukung UMKM kuliner lokal.

“Seblak Teh Ita adalah contoh bagaimana kuliner sederhana bisa tumbuh menjadi usaha yang berdaya saing. Dengan dukungan KUR BRI, usaha kecil seperti ini mampu berkembang, membuka lapangan kerja, dan menjadi ikon kuliner daerah,” ujarnya.

Menurut Eki, keberhasilan Teh Ita menunjukkan bahwa BRI bukan hanya bank, melainkan mitra perjalanan hidup. “Pinjaman KUR bukan sekadar angka, tetapi energi yang menggerakkan ekonomi lokal. Ketika usaha seperti seblak Teh Ita berkembang, dampaknya terasa pada keluarga, masyarakat, dan citra kuliner Sukabumi.”pungkasnya. (*)