SUKABUMI – Jalan berbelok, jauh dari pemukiman, dekat pesawahan di Kampung Kebonpedes, Desa Kebonpedes, Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi, berdiri sebuah peternakan sederhana yang kini menjadi sumber penghidupan. Pemiliknya, Warsito (45), ayah dari tiga anak, pernah menghabiskan delapan tahun bekerja sebagai TKI di Taiwan. Dengan modal yang ia kumpulkan dari perantauan, Warsito memutuskan kembali ke tanah kelahirannya dan membuka usaha peternakan puyuh sejak 2022.
Motivasi Warsito sederhana: melihat peluang yang masih terbuka lebar di Sukabumi. “Peternak puyuh belum begitu banyak, jadi saya beranikan diri mencoba,” ujarnya. Telur puyuh hasil ternaknya dipasarkan ke Pasar Pelita dan Pasar Sukaraja, dengan harga Rp400 per butir untuk partai besar dan Rp450 untuk eceran.
Awalnya, usaha ini tidak langsung berhasil. Modal pribadi habis, kandang pertama gagal. Namun, Warsito tidak menyerah. Ia memberanikan diri mengajukan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp100 juta ke BRI pada 2025. Permohonan itu disetujui, dan menjadi titik balik perjalanan usahanya.
Dengan tambahan modal, populasi puyuh meningkat dari 2.000 ekor menjadi 4.000 ekor. Kini, setiap hari Warsito mampu menghasilkan sekitar 3.200 butir telur. Jika dikalikan harga Rp400 per butir, omzet harian mencapai Rp1,28 juta. “Alhamdulillah, dari hasil ini keluarga bisa lebih tenang. Saya berterima kasih kepada BRI yang sudah membantu,” katanya.
Meski begitu, tantangan tetap ada. Harga pakan melonjak seiring naiknya kurs dolar, sementara listrik menjadi kendala utama. “Kalau listrik mati, kandang close house langsung terganggu. Telur bisa menurun. Jadi harus cepat pakai genset,” jelasnya. Kesehatan ayam pun harus dijaga dengan komunikasi rutin bersama pemasok obat dan pakan.
Untuk pemasaran, Warsito masih mengandalkan jaringan lokal. “Dari mulut ke mulut, teman ke teman. Masih di sekitar Sukabumi saja,” ujarnya. Meski belum membuka lapangan kerja bagi orang lain, ia berharap ke depan bisa memperluas usaha dan memberi kontribusi lebih besar bagi masyarakat.
Kepala Unit BRI Unit Sukaraja Cabang Sukabumi, Irwan Maulana, menilai kisah Warsito sebagai bukti nyata bagaimana KUR mampu mengubah kegagalan menjadi keberhasilan.

“Pak Warsito adalah contoh bagaimana keberanian dan kerja keras bisa mengubah hidup. Dari pengalaman sebagai TKI, ia kembali ke desa dan membangun usaha peternakan puyuh. Meski sempat gagal, dengan dukungan KUR, kini usahanya berkembang pesat,” ujarnya.
Irwan menekankan bahwa BRI hadir bukan hanya memberi modal, tetapi juga mendampingi masyarakat agar usaha mereka berkelanjutan. “Kami ingin memastikan bahwa setiap rupiah yang disalurkan melalui KUR benar-benar menjadi benih kesejahteraan. Dari 2.000 ekor menjadi 4.000 ekor, itu bukan sekadar angka, tetapi simbol pertumbuhan ekonomi desa,” katanya.
Menurutnya, usaha peternakan puyuh memiliki potensi besar karena kebutuhan telur yang terus meningkat. “Telur puyuh bukan hanya pangan, tetapi juga peluang usaha. Dengan manajemen yang baik, usaha ini bisa berkembang lebih luas, bahkan menembus pasar regional,” jelasnya.
Menutup komentarnya, Irwan berharap kisah Warsito menjadi inspirasi. “Kami ingin lebih banyak masyarakat desa yang berani memulai usaha, sekecil apa pun. Karena dari usaha kecil itulah lahir kekuatan besar untuk membangun ekonomi bangsa,” tutupnya.(*)






