ARTIKEL

Semua Anak Pintar

×

Semua Anak Pintar

Sebarkan artikel ini
Dr. Drs. Raya Erwana, M.Pd. Kepala SMAN 1 Pelabuhanratu Kab. Sukabumi
Dr. Drs. Raya Erwana, M.Pd. Kepala SMAN 1 Pelabuhanratu Kab. Sukabumi

Oleh: Dr. Drs. Raya Erwana, M.Pd.
Kepala SMAN 1 Pelabuhanratu Kab. Sukabumi

Tidak ada anak yang bodoh. Yang ada hanyalah anak yang tidak mendapatkan kesempatan belajar dari guru yang baik dan metode yang baik. Guru yang baik itu memotivasi dan menginspirasi. (Prof. Yohanes Surya)

Bank bjb Tandamata

Seorang guru yang baik adalah guru yang dapat memberikan inspirasi untuk para muridnya. Inspirasi ini ditunjukkan para guru dengan memberikan teladan dan nasihat membangun pada anak-anak didik agar mereka belajar tanpa rasa takut jika salah dan tetap berani jika dikatakan tidak mampu.

Guru profesional adalah guru yang harus bisa memberi motivasi untuk anak-anaknya. Guru tidak boleh memotivasi muridnya untuk berani mati, tapi harus memotivasi murid untuk berani menghadapi hidupnya

Membaca pernyataan di atas langsung terlintas pada pengalaman masa lalu pada masa sekolah di SMA, dimana di masa itu pernah mendapatkan satu pembelajaran hidup yang sangat berarti yang menjadi bekal sampai detik ini.

Adalah pelajaran Bahasa Inggris, mata pelajaran yang menjadi momok bagi sebagian besar siswa dikarenakan susah untuk dipelajarinya. Seorang teman malah sering ngedumel, ‘Tulisannya apa, dibacanya bagaimana, kedengarannya kemana.”

Penulis merasa mempunyai kemampuan akademik yang terbatas, tidak pernah masuk sepuluh besar di kelas, kadang merasa iri dan menyesal kalau melihat teman yang berkemampuan hebat dalam bidang akademik. Menghadapi mata pelajaran eksak (MIPA), pasti menyerah duluan. Apalagi menghadapi pelajaran bahasa Inggris, pasti ciut nyali yang ada. Walhasil kesan pada mata pelajaran bahasa Inggris sudah tentu sangat buruk dan selalu menyesali ketidakmampuan dalam menguasainya.

Hal ini diperparah dengan mendapatkan guru yang mengajarkannya juga asal-asalan. Dengan penampilan yang acuh, tidak perduli pada kemampuan anak didik dan mengajar dengan metode ortodok. Kalau anak tidak paham, yang ada kemudian marah-marah. Lengkap sudah rasanya penderitaan selama mengikuti jam pelajaran tersebut. Tersiksa selama jam mata pelajaran tersebut baik lahir maupun bathin.

Berbanding terbalik dengan seorang guru Matematika pernah mengajari penulis, padahal mata pelajaran ini termasuk yang tidak penulis senangi dan kuasai juga, dan ternyata sang guru juga bukan dari jurusan matematika, tetapi setiap mengajarnya, di awal dan diakhir pelajaran selalu memberikan motivasi dan inspirasi yang menggugah hati. Semua anak senang dan sayang kepada beliau karena kalau membuat kesalahan pun dalam mengerjakan tugas, beliau pasti hanya tersenyum. Pernah di suatu saat beliau menulis sebuah soal di papan tulis, kemudian menawarkan siapa yang berani menyelesaikan jawabannya, otomatis kami berebutan berdesak-desakan di depan papan tulis. Tetapi kami hanya bisa berdiri mematung saja di sana sambil tidak bisa mengerjakan jawaban soal itu. Tetapi, minimal kami berani walaupun hanya untuk mengerjakan yang belum tentu benar.

Lanjut cerita apa yang harus penulis jalani, ternyata Allah mentakdirkan penulis harus menjadi seorang pengajar pelajaran Bahasa Inggris. Dulu tidak suka, sekarang harus berusaha membuat suka. Berbanding terbalik dengan pengalaman masa lalu. Sekarang penulis menjadi dosen yang mencetak ahli dan sarjana Bahasa Inggris.

Berkaca pada pengalaman masa lalu itu, penulis berusaha berhati-hati dalam menyampaikan ilmunya. Dengan metode yang bervariasi supaya tidak membosankan. Selalu membimbing dan mendengarkan supaya terasa nyaman. Ditambah dengan selalu memotivasi dalam setiap kesempatan. Dan tidak lupa selalu menjadi inspirasi bagi setiap muridnya. Penulis yakin semua itu akan menjadi kebanggaan dan jasa yang selalu diingat oleh murid-muridnya sepanjang hayat. Ingat, semua anak itu pintar. **