SUKABUMI – Jumlah kasus Tuberculosis (TBC) di Kota Sukabumi menunjukkan tren peningkatan. Kondisi ini menjadi perhatian serius Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sukabumi yang bersama Kementerian Kesehatan menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian dan Penanggulangan TBC di salah satu hotel Kota Sukabumi.
Rakor yang dihadiri tenaga kesehatan, pengelola program TBC, serta mitra lintas sektor tersebut menjadi forum penting untuk menyatukan langkah menghadapi tantangan penanggulangan penyakit menular yang hingga kini masih menjadi masalah kesehatan dunia.
Kepala Dinkes Kota Sukabumi, Ida Halimah, menyampaikan bahwa TBC masih menjadi ancaman serius yang membutuhkan keterlibatan semua pihak. Berdasarkan pendataan sejak awal tahun, jumlah penderita TBC di Kota Sukabumi telah mencapai sekitar 1.400 orang. “Proses pengobatan harus tuntas. Tahun 2025 keberhasilan pengobatan masih 76 persen, sementara angka temuan mencapai 90 persen. Maka diperlukan koordinasi dan kolaborasi. Ketika ada warga yang putus pengobatan, harus dicatat dan dilaporkan,” ujarnya.
Ida menegaskan tantangan terbesar bukan hanya menemukan kasus baru, tetapi memastikan pasien disiplin menjalani pengobatan yang berlangsung berbulan-bulan. “Pasien yang menghentikan pengobatan sebelum waktunya berisiko mengalami komplikasi dan menjadi sumber penularan baru,” katanya.
Dinkes Kota Sukabumi akan terus mengoptimalkan strategi penemuan kasus dan pendampingan pasien. Targetnya, 90 persen temuan dari sekitar 2.000 orang harus berhasil diobati. “Ketika ditemukan 90 persen, semuanya harus berhasil diobati,” tegas Ida.





