KOTA SUKABUMI

Warung Ngapung PEKA, Inovasi Pemberdayaan Perempuan Sukabumi

×

Warung Ngapung PEKA, Inovasi Pemberdayaan Perempuan Sukabumi

Sebarkan artikel ini
Dari lahan sampah jadi ruang produktif. Warung Ngapung PEKA hadir dorong kemandirian perempuan Sukabumi

SUKABUMI – Sebuah sudut di halaman kantor Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kota Sukabumi yang sebelumnya dipenuhi tumpukan sampah kini berubah menjadi ruang produktif bernilai ekonomi.

Melalui inovasi Warung Ngapung PEKA dan UPKKA, area yang semula dianggap masalah disulap menjadi pusat pemasaran produk UMKM sekaligus sarana pemberdayaan perempuan.

Bank bjb Tandamata

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DP2KBP3A Kota Sukabumi, Ineu Nuraini, menjelaskan bahwa gagasan ini lahir dari upaya menciptakan lingkungan kerja yang lebih tertata dan nyaman. “Awalnya kami ingin menata lingkungan kantor agar lebih bersih dan nyaman. Setelah berdiskusi dengan pegawai dan tenaga harian lepas, muncul gagasan memanfaatkan lahan tersebut menjadi warung yang dapat digunakan bersama sekaligus memberikan nilai ekonomi,” ujarnya.

Warung Ngapung PEKA dikembangkan bukan sekadar tempat berjualan, melainkan wadah pemberdayaan bagi Perempuan Kepala Keluarga (PEKA) serta anggota Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor (UPKKA). Beragam produk olahan rumahan, makanan ringan, hingga hasil usaha mikro masyarakat kini dipasarkan melalui warung tersebut.

Ineu menambahkan, banyak perempuan kepala keluarga yang memiliki usaha mandiri namun masih menghadapi kendala pemasaran. Kehadiran warung ini diharapkan menjadi jembatan agar produk mereka lebih mudah dikenal dan menjangkau konsumen. “Banyak perempuan yang memiliki kemampuan berusaha, mulai dari membuat makanan ringan, keripik hingga produk UMKM lainnya. Kami ingin membantu mereka mendapatkan ruang promosi dan penjualan yang lebih mudah diakses,” katanya.

Selain produk milik anggota PEKA dan UPKKA, warung tersebut juga menerima titipan produk dari pegawai, pelaku UMKM binaan maupun warga sekitar. Konsep kolaboratif ini diharapkan mampu memperluas peluang usaha sekaligus memperkuat jejaring ekonomi masyarakat.

Tak hanya berfokus pada pemasaran, Warung Ngapung PEKA juga menjadi sarana pembelajaran kewirausahaan. Pengelolaannya melibatkan keluarga pegawai dan membuka peluang bagi generasi muda yang ingin belajar mengelola usaha secara langsung. “Harapannya warung ini menjadi tempat tumbuh bersama. Ada proses belajar, ada pemberdayaan, dan ada manfaat ekonomi yang bisa dirasakan oleh banyak pihak,” tambahnya.

Meski baru diluncurkan, DP2KBP3A telah menyiapkan pengembangan program agar manfaatnya semakin luas. Konsep Warung Ngapung PEKA direncanakan dapat direplikasi di tingkat kecamatan hingga instansi lain sebagai model pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas. “Program ini kami harapkan berkelanjutan dan mampu mendorong semakin banyak perempuan menjadi mandiri secara ekonomi. Berawal dari langkah sederhana, mudah-mudahan dampaknya bisa dirasakan lebih besar oleh masyarakat,” pungkas Ineu. (ris)