SUKABUMI – Bunda Literasi Kota Sukabumi, Ranty Rachmatilah, menegaskan bahwa tantangan terbesar bangsa saat ini bukan hanya soal kemajuan teknologi, tetapi bagaimana menjaga generasi muda agar tetap memiliki akar budaya, karakter, dan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan.
Di tengah derasnya arus informasi digital, media sosial, dan hiburan instan, budaya membaca dan tradisi bertutur menghadapi ujian berat. Padahal, kemampuan literasi merupakan fondasi utama dalam membangun peradaban dan menentukan kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Menurut Ranty, membangun budaya bangsa tidak bisa dilepaskan dari kebiasaan membaca sejak usia dini. Peran keluarga dan sekolah sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang mendorong anak mencintai buku, memahami nilai kehidupan, serta memiliki kemampuan berpikir kritis. “Guru dan orang tua harus hadir menjadi teladan agar budaya membaca tidak semakin tergerus oleh gawai dan hiburan digital,” ujarnya kepada Radar Sukabumi, Rabu (10/6).
Ia menilai kegiatan lomba bertutur bukan sekadar kompetisi keterampilan berbicara, melainkan bagian dari ikhtiar membangun karakter bangsa. Melalui cerita, anak-anak belajar memahami sejarah, mengenal tokoh inspiratif, menyerap nilai perjuangan, serta mengembangkan kemampuan menyampaikan gagasan dengan percaya diri. Di balik setiap cerita, terdapat proses pembentukan pola pikir, empati, dan kecerdasan sosial yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Ranty menekankan, bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menjaga warisan nilai dan budayanya. Kisah pahlawan, legenda daerah, hingga cerita rakyat bukan hanya hiburan, melainkan sarana pewarisan karakter yang mengajarkan kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, semangat gotong royong, serta kecintaan terhadap tanah air. “Jangan takut tampil dan jangan takut melakukan kesalahan. Yang paling penting adalah keberanian untuk belajar, mencoba, dan terus berkembang. Dari proses itulah karakter akan terbentuk,” pesannya.





