SUKABUMI — Siang itu, suasana Pasar Cibadak begitu ramai. Pasar yang dulu dikenal kumuh kini telah disulap menjadi pasar semi modern. Di tengah keramaian, ada kisah perjuangan seorang pedagang asli Parungkuda, Haji Abdurahman (55), yang telah merintis usaha sejak 1999.
Perjalanan panjangnya dimulai dari nol, berjualan sebagai pedagang kaki lima. “Awalnya saya terdesak, harus meminjam ke BRI. Lima tahun saya bertahan di kaki lima, lalu masuk ke toko sekitar tahun 2004–2005,” kenangnya. Usaha itu berkembang menjadi dua hingga tiga toko.
Namun, kehidupan tidak selalu mulus. Setelah menunaikan ibadah haji pada 2012, istrinya meninggal dunia setahun kemudian. “Usaha saya terpuruk, uang untuk toko habis, semangat jualan menurun,” ujarnya lirih.
Baru pada 2015, ia memberanikan diri kembali meminjam ke BRI. “Awalnya saya selalu menolak pinjaman, tapi karena urgen akhirnya saya terima setelah ditawari berulang kali oleh mantri BRI. Pinjaman pertama Rp10 juta, dalam waktu setahun setengah usaha saya kembali stabil,” jelasnya. Kini, pinjaman telah berkembang menjadi Rp50 juta.
Dengan modal itu, usaha Haji Abdurahman kembali bangkit. Ia belajar strategi dagang dari pedagang Tiongkok, belanja tiga kali sebulan, dan omzet mencapai Rp5 juta hingga Rp10 juta. “Saya masih punya tiga toko, tapi sebagian saya kontrakkan. Saya cukup satu toko saja. Buat apa keran dua kalau keran satu mengalir,” katanya bijak.
Baginya, bantuan BRI adalah titik balik. “Itu the best bantuan waktu itu. Dari BRI, taraf hidup saya kembali. Anak saya bisa kuliah, bahkan jadi dosen. Anak kedua bekerja di rumah sakit Kartika. Bantuan KUR BRI meningkatkan taraf pendidikan dan ekonomi keluarga saya,” ujarnya penuh syukur.
Sementara itu ditempat terpisah, Eki Dyata Fredi Setiawan, Pemimpin Cabang KC BRI Cibadak, menilai kisah Haji Abdurahman sebagai bukti nyata peran BRI dalam mendampingi masyarakat. “Haji Abdurahman adalah contoh bagaimana BRI hadir bukan sekadar memberi pinjaman, tetapi menjadi sahabat perjalanan hidup. Dari kaki lima hingga toko semi modern, dari keterpurukan hingga bangkit kembali, semua itu adalah perjalanan yang membanggakan,” ujarnya.
Menurut Eki, keberhasilan nasabah seperti Haji Abdurahman menunjukkan bahwa BRI bukan hanya bank, melainkan mitra yang memahami kondisi masyarakat. “Pinjaman KUR bukan sekadar angka, tetapi energi yang menggerakkan ekonomi keluarga. Ketika usaha bangkit, pendidikan anak-anak terjamin, dan taraf hidup meningkat. Itulah dampak sosial yang kami harapkan,” tambahnya.
Ia menekankan bahwa BRI Cibadak berkomitmen untuk terus mendampingi UMKM. “Kami ingin setiap nasabah merasa didukung, baik dari sisi modal maupun pendampingan. Kisah Haji Abdurahman adalah inspirasi bahwa dengan keberanian dan dukungan, usaha kecil bisa tumbuh besar.”pungkasnya. (*)



