SUKABUMI – Siang itu, keheningan Kampung Bojongwarung mendadak pecah. Warga berlarian menuju sebuah rumah sederhana di tepi jurang. Di dasar tebing sedalam empat meter, tubuh renta Mak AM (85) tergeletak tak bernyawa.
Mak AM dikenal sebagai sosok yang hidup sebatang kara. Rumahnya berdiri hanya satu meter dari bibir jurang, tanpa pagar pengaman. Kondisi itu membuat setiap langkahnya penuh risiko, terlebih dengan penglihatan yang kabur dan tubuh yang sering dilanda pusing.
Kecurigaan muncul sejak Kamis, ketika tetangga seperti Nani Suhartini (64) dan Wiwi Winarti (54) tak lagi melihat aktivitas Mak AM. Tidak ada sapaan, tidak ada gerakan di halaman. Hingga akhirnya, Sabtu siang, warga menemukan kenyataan pahit: Mak AM telah jatuh ke jurang tepat di depan pintu rumahnya.
Kapolsek Cikembar, IPTU Yadi Suryadi, menegaskan hasil olah TKP menunjukkan tidak ada unsur kekerasan. “Ini murni kecelakaan. Luka lecet di pundak kanan diduga akibat benturan saat terperosok,” jelasnya.
Jenazah segera dievakuasi oleh polisi dan warga, lalu dibawa ke rumah kerabat di Kampung Bojong Kidul untuk dimakamkan. Duka menyelimuti warga, sekaligus menyisakan pelajaran penting tentang kerentanan lansia yang tinggal sendirian di lingkungan berisiko.






