SUKABUMI– Suasana riuh di kolam pemandian umum Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, mendadak berubah menjadi kepanikan pada Kamis (29/1) siang. Seekor primata berbulu gelap dengan ekor panjang, yang kemudian diidentifikasi sebagai Lutung Jawa, terlihat bertengger di dekat permukiman warga.
Sigit (40), saksi mata, menuturkan kemunculan hewan itu terjadi sekitar pukul 13.00 WIB. Awalnya warga mengira primata tersebut adalah monyet ekor panjang biasa. Namun, perawakan dan warna bulunya memastikan bahwa itu adalah penghuni asli hutan pegunungan.
“Lutung itu sempat mendekati rumah kosong, sepertinya mengincar kantong sampah untuk mencari makan,” ujar Sigit, Jumat (30/1).
Menurut pengamatannya, fenomena serupa kerap terjadi saat musim penghujan. Suhu dingin di dataran tinggi seperti Situ Gunung membuat primata turun ke wilayah yang lebih hangat. Meski sempat memancing kerumunan, lutung tersebut bergerak gesit dan melarikan diri ke arah perkebunan. Hingga berita ini diturunkan, hewan itu terakhir terlihat di Kampung Cibolang Kidul, Desa Cibatu, Kecamatan Cisaat.
Namun, pihak Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) memiliki pandangan berbeda. Kepala Resort TNGGP, Asep Suganda, meragukan lutung tersebut keluar hutan hanya untuk mencari makan.
“Di Situ Gunung ketersediaan makanan masih melimpah. Hewan-hewan ini juga belum terbiasa dengan manusia, jadi kecil kemungkinan mereka keluar hutan demi makan,” jelas Asep.
Ia menduga lutung itu merupakan hasil tangkapan yang dipelihara secara ilegal, lalu lepas atau sengaja dilepaskan pemiliknya. Asep mengingatkan, Lutung Jawa adalah satu dari lima primata yang dilindungi undang-undang. Menangkap, melukai, atau memeliharanya bukan hanya merusak ekosistem, tetapi juga berisiko hukum pidana.
Selain itu, kontak fisik dengan primata liar berpotensi menularkan penyakit zoonosis. Pihak TNGGP kini berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk mengevakuasi lutung tersebut karena lokasi temuan berada di luar zona taman nasional.
“Jangan ditangkap untuk dipelihara. Biarkan mereka hidup di alam. Jika melihat lagi, segera lapor petugas,” pungkas Asep.(den/d)





