JAWA BARAT

DVI Polda Jabar Ambil Sampel DNA Keluarga Pramugari ATR 42-500

×

DVI Polda Jabar Ambil Sampel DNA Keluarga Pramugari ATR 42-500

Sebarkan artikel ini
Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat saat mengambil sampel DNA keluarga pramugari pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) di Bogor, Jawa Barat, Minggu (18/1/2026).
Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat saat mengambil sampel DNA keluarga pramugari pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) di Bogor, Jawa Barat, Minggu (18/1/2026).

BANDUNG – Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat mengambil sampel DNA keluarga pramugari pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang menjadi korban kecelakaan di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Bank bjb Tandamata

Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat, Kombes Pol Hendra Rochmawan, menyebutkan korban bernama Esther Aprilita S, salah satu awak kabin yang ikut dalam penerbangan tersebut.

“Saat ini tim DVI Polda Jawa Barat berada di kediaman keluarga korban untuk mengambil data ante mortem serta DNA pembanding dari pihak keluarga,” kata Hendra di Bandung, Minggu (18/1/2026).

Pengambilan sampel DNA dilakukan di kediaman keluarga korban di Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor. Menurut Hendra, langkah ini merupakan bagian penting dalam proses identifikasi korban secara ilmiah.

Sebelumnya, pesawat ATR 42-500 dilaporkan hilang kontak saat terbang dari Yogyakarta menuju Makassar, Sabtu (17/1) sekitar pukul 13.17 WITA. Pesawat dengan nomor registrasi PK-THT itu membawa 11 orang, terdiri dari delapan kru dan tiga penumpang.

Tim SAR gabungan kemudian menemukan serpihan pesawat di lereng Gunung Bulusaraung. Basarnas menetapkan radius pencarian sejauh satu kilometer dari lokasi serpihan untuk mempercepat proses evakuasi.

Pesawat ini berangkat dari Yogyakarta pukul 09.08 WITA dengan estimasi tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Maros, pukul 12.22 WITA. Namun, pada pukul 12.23 WITA, pesawat gagal mengikuti instruksi ATC Makassar Radar untuk intercept ILS runway 21 melalui Openg di ketinggian 5.300 kaki, sebelum akhirnya hilang kontak.(*)