SUKABUMI – Hujan ekstrem yang mengguyur Kabupaten Sukabumi sejak Minggu (28/12) hingga Senin (29/12) memicu bencana hidrometeorologi di berbagai wilayah. Banjir bandang dan tanah longsor menerjang sedikitnya 10 kecamatan, melumpuhkan akses transportasi, merusak infrastruktur, dan memaksa puluhan warga mengungsi.
Manajer Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Sukabumi, Daeng Sutisna, menyebutkan bahwa hingga Selasa (30/12), tercatat 16 jembatan rusak berat hingga putus total. Salah satu yang paling terdampak adalah jembatan gantung sepanjang 48 meter di Dusun Leuwi Dinding, Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah, yang terputus akibat luapan Sungai Cimandiri.
“Kondisi ini memaksa warga memutar sejauh enam kilometer melalui area pabrik PT SCG untuk aktivitas harian,” ujar Daeng.
Kecamatan Purabaya menjadi salah satu wilayah terparah. Luapan Sungai Cimerang dan Cibening merendam permukiman dengan ketinggian air mencapai dada orang dewasa. Di Desa Cimerang, belasan rumah mengalami kerusakan, sementara satu RW di Desa Purabaya terendam banjir musiman yang juga melumpuhkan jalan provinsi penghubung Purabaya–Sagaranten.
Kondisi serupa terjadi di Kecamatan Nyalindung. Di Desa Bojongsari, banjir bandang dan longsor memutus akses ke enam RT di dua RW. Sebanyak 67 kepala keluarga atau 160 jiwa sempat mengungsi ke mushola dan rumah kerabat karena khawatir longsor susulan.
Secara keseluruhan, hingga Senin sore (29/12), BPBD mencatat:
- – 11 rumah rusak berat
– 20 rumah rusak sedang
– 168 rumah terendam banjir
– 16 jembatan rusak atau putus
– 9 titik jalan rusak atau tertutup longsor
– 4 tempat ibadah terdampak
– 52,9 hektare lahan pertanian rusak
– 1 gedung sekolah (SDN Ciengang 1) terancam akibat retakan pondasi di tebing Sungai Cijurey
Meski tidak ada korban jiwa, BPBD menegaskan bahwa potensi bencana susulan masih tinggi. BMKG telah mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem untuk sejumlah kecamatan di Sukabumi.






