Di sudut pelosok Kabupaten Sukabumi, berdiri sebuah sekolah yang menjadi saksi keteguhan, keikhlasan, dan cinta tiga guru terhadap dunia pendidikan. Mereka adalah Ade Isman, Dedy Sudrajat, dan Empet Soleh. Tiga pendidik yang selama 28 tahun lebih memilih bertahan daripada mencari kenyamanan. Tiga sahabat yang mengabdi bukan karena kewajiban, tetapi karena panggilan hati.
WIDI FITRIA — Sukabumi
Di balik prestasi anak-anak negeri, selalu ada sosok guru yang menjadi lilin menerangi, meski dirinya perlahan meleleh. Begitulah gambaran perjalanan tiga sosok pendidik di SMPN 2 Gegerbitung Ade Isman, Dedy Sudrajat, dan Empet Soleh yang telah mendedikasikan hidupnya selama 28 tahun penuh untuk masa depan generasi muda di pelosok Sukabumi.
Mereka dikenal sebagai Trio Guru Pelosok tiga sahabat yang setia menjalankan tugas mulia tanpa pernah mengeluh, tanpa pernah menuntut banyak, dan tanpa pernah meninggalkan sekolah yang telah menjadi rumah kedua mereka.
Ade Isman: Lelah tapi Bahagia Ketemu Anak
Ade adalah guru Bahasa Sunda yang juga menjabat sebagai Wakasek Kurikulum, telah menempuh perjalanan jauh dari Leuwih Gajah, Bandung, selama hampir tiga dekade tanpa pernah sekalipun meminta pindah tugas. Setiap hari, ia berangkat pukul 02.00 WIB dan tiba di sekolah sekitar 06.30 WIB.
“Lelah tapi bahagia kalau ketemu anak-anak. Saya bahagia melihat anak didik berhasil. Itu tidak bisa diukur dengan uang,” ujarnya.
Di Hari Guru ini, Ade berharap pemerintah memberi perhatian lebih pada kesejahteraan guru di pelosok dan guru-guru honorer, serta pemerataan sarana prasarana pendidikan. Baginya, guru adalah sosok yang kehadirannya harus bermakna, dirindukan murid, dan bekerja dengan ketulusan hati.
Dedy Sudrajat, Pengabdian Senyap Tanpa Keluhan
Hampir sama dengan Ade, Dedy Sudrajat guru Bahasa Indonesia sekaligus Wakasek Kesiswaan—telah mengabdi 28 tahun tanpa pernah berpindah sekolah.
Ia berangkat dari Banjaran, Bandung, setiap tengah malam dan hanya bisa pulang pada hari Jumat. Senin dini hari, ia sudah kembali menempuh perjalanan jauh demi hadir tepat waktu di depan kelas.
Yang membuat hatinya sedih adalah minimnya transportasi publik di wilayah ini.
“Banyak murid harus berjalan kaki sampai satu jam untuk ke sekolah, apalagi saat hujan. Saya sangat prihatin,” katanya lirih.
Keterbatasan tempat tinggal membuat Ade dan Dedy tidur di sekolah. Ruang guru disulap menjadi tempat istirahat seadanya.
Di bulan Ramadan, keduanya sering sahur dan berbuka jauh dari keluarga. Mereka bercanda, “Kalau bulan puasa sekolah nggak libur… sok sedih cenah,” ucap mereka. Namun di balik gurauan itu, tersimpan keteguhan hati yang tak banyak orang miliki.
Empet Soleh: Persahabatan yang Menahan untuk Tetap Bertahan
Empet Soleh, guru Pendidikan Agama Islam yang juga sudah 28 tahun mengabdi, tinggal di wilayah Kecamatan Gegerbitung. Meski jalan menuju sekolah rusak parah dan melelahkan bagi usianya yang tidak muda lagi, ia tetap memilih bertahan. Alasannya sederhana dan menyentuh yaitu karena persahabatan dengan Ade dan Dedy, serta suasana sekolah yang penuh kekeluargaan.
Menurutnya, seorang guru harus mampu menjadi sahabat bagi muridnya—sosok yang mendengarkan, membimbing, dan hadir dengan hati yang tulus.
Untuk bertahan 28 tahun di pelosok bukanlah hal mudah, berangkat dini hari setiap pekan, tidur di ruang guru, berjuang dalam keterbatasan, dan tetap tersenyum demi murid—itu adalah bentuk cinta.
Di tengah kesunyian pagi Gegerbitung, ada tiga guru yang terus menyalakan harapan.Mereka tidak meminta banyak mereka hanya ingin melihat murid-muridnya berhasil, dan ingin menghabiskan waktu mengajar hingga pensiun.
Kisah mereka mengajarkan bahwa pendidikan tidak hanya dibangun oleh kurikulum dan gedung bagus, tetapi oleh hati yang ikhlas, langkah yang tak menyerah, dan semangat yang tetap menyala meski diterpa keterbatasan. Mereka pun bertekad menghabiskan masa tugas hingga pensiun di sekolah ini. Karena bagi mereka, pengabdian adalah kehormatan, dan anak-anak yang mereka didik adalah alasan terbesar untuk terus melangkah.(*)




