SUKABUMI — Ribuan warga, nelayan, dan beragam elemen masyarakat tumpah ruah memadati Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, demi mengikuti kemeriahan Syukuran Nelayan ke-28 yang digelar pada Kamis (10/7/2025).
Karnaval budaya yang menjadi tradisi tahunan masyarakat pesisir ini dimulai dari Pasar Cisolok dan berakhir di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pajagan, Desa Cikahuripan. Sepanjang rute, peserta menampilkan atraksi khas pesisir, iring-iringan putri dan raja nelayan, serta ritual adat larung bunga ke laut sebagai simbol rasa syukur atas limpahan hasil laut.
Kepala Desa Cikahuripan, Heri Suryana atau akrab disapa Jaro Midun, mengungkapkan adanya perbedaan dalam pelaksanaan larung bunga tahun ini. “Biasanya larung dilakukan di tengah laut. Namun kali ini kami laksanakan di sekitar dermaga Pajagan. Meski lokasinya berbeda, nilai budaya tetap kami jaga. Ini wujud komitmen kami dalam melestarikan tradisi nelayan Cisolok,” ujar Jaro Midun.
Ia menyoroti kondisi Dermaga Pajagan yang telah lama mangkrak dan belum bisa dimanfaatkan optimal. “Harapan kami, dengan hadirnya perwakilan provinsi, aspirasi pembangunan dermaga dapat disampaikan ke pusat. Nelayan berhak atas fasilitas yang layak demi masa depan yang sejahtera,” tegasnya.
Meski dana dari Pemkab Sukabumi hanya sekitar Rp10 juta, perayaan ini tetap meriah berkat swadaya nelayan, bantuan pengusaha, sponsor, dan dukungan masyarakat. Biaya total acara mencapai Rp435 juta.
“Kami ingin perhatian pemerintah daerah lebih besar ke depannya. Acara ini bukan sekadar lokal, tapi punya dampak besar bagi nelayan dan pelestarian budaya,” tambahnya.
Acara bertema “Nelayan Maju, Nelayan Membangun, Nelayan Bermartabat” turut mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Yayasan Dzikir Merah Putih. “Syukuran ini bukan hanya tradisi, tapi cerminan semangat gotong royong nelayan mempertahankan budaya dan memperjuangkan masa depan yang lebih baik,” paparnya.






