BANDUNG – Pemerintah Daerah Provinsi (Pemdaprov) Jawa Barat (Jabar) bersama Kementerian Sosial mendirikan Sekolah Rakyat (SR) di 13 titik yang tersebar di 10 Kabupaten/ Kota. Salah satu tujuannya, untuk memperluas akses pendidikan bagi keluarga miskin ekstrem.
Karena itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Jabar, Herman Suryatman memastikan, seluruh Sekolah Rakyat siap beroperasi tahun ini. “Sebanyak 1.353 siswa telah tercatat sebagai peserta didik di 13 sekolah tersebut,” ucapnya, diikutip laman Disdik Jabar, Rabu (9/7/2025).
Adapun Sekolah Rakyat tersebut, terdapat di Kota Bogor (Sentra Galih Pakuan), Kabupaten Bogor (Sentra Inten Soeweno), Kabupaten Bekasi (Sentra Pangudi Luhur), Kabupaten Sukabumi (Sentra Phalamarta) Kabupaten Bandung (kawasan stadion Si Jalak Harupat).
Kemudian di Kabupaten Bandung Barat (KBB) yakni Sentra Wiyata Guna dan BPPKS Kemensos. Di Kota Bandung (Polteksos dan Sentra Wyata Guna), Kabupaten Sumedang (Balai Latihan Kerja Sumedang), Kota Cirebon (SMPN 18 Kota Cirebon), Kota Cimahi (Sentra Abiyoso dan Dinas Sosial Jabar).
“Seluruh Sekolah Rakyat siap menerima peserta didik pada tahun ini. Kehadiran sekolah ini merupakan komitmen Pemdaprov Jabar dalam pemerataan akses pendidikan, terutama bagi warga kurang mampu,” terang Herman.
Ia berharap, 13 Sekolah Rakyat tersebut dapat menjangkau lebih banyak anak dari keluarga miskin ekstrem memperoleh kesempatan pendidikan yang layak dan berkualitas, pungkasnya.
Pendidikan Hak Dasar Setiap Anak
Kepala Dinas Pendidikan Jabar, Purwanto menyatakan, pendidikan adalah hak dasar setiap anak. “Sekolah Rakyat menjadi wujud komitmen kami dalam memastikan tidak ada anak di Jabar, yang tertinggal hanya karena keterbatasan ekonomi,” ujarnya.
Lebih lanjut Purwanto pun menjelaskan, bahwa pihaknya (Disdik Jabar) akan mendampingi proses pembelajaran di Sekolah Rakyat dengan cara melakukan pendekatan adaptif, sesuai kebutuhan siswa dan karakteristik di daerah.
“Kami pastikan mutu pendidikan tetap terjaga melalui pendampingan intensif, pelatihan guru serta penguatan kurikulum berbasis konteks sosial siswa,” tuturnya. (*)






