SUKABUMI – Sosok muda inspiratif kembali lahir dari Kota Sukabumi. Dia adalah Sifa Salma, mahasiswa semester 4 Program Studi Kebidanan Universitas Padjadjaran (UNPAD). Ia berhasil mengharumkan nama Indonesia dalam forum internasional Asia Youth Green Summit 2025 di Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta.
Tak hanya hadir, Sifa tampil memukau sebagai salah satu delegasi terbaik dari Indonesia. Ia membawa semangat perubahan dan kepedulian mendalam terhadap krisis iklim—isu yang kini menjadi ancaman global.
Alumni SMAN 3 Sukabumi ini terpilih mewakili Indonesia dari lebih dari 1.000 pendaftar dari berbagai negara. Ia lolos berkat konsistensinya sebagai aktivis muda dan gagasan kampanye lingkungan yang dianggap relevan dan berdampak.
Asia Youth Green Summit merupakan forum tahunan bergengsi berskala internasional yang mempertemukan 50 pemuda terbaik dari 10 negara Asia Pasifik untuk bersama-sama membahas dan merumuskan solusi atas berbagai isu lingkungan, khususnya terkait poin ke-13 Sustainable Development Goals (SDG’s) tentang perubahan iklim.
Tahun ini, acara ini digelar dengan dukungan besar dari organisasi internasional seperti @asialeadersummit dan @globalyouthgoals, serta disokong oleh United Nations. Acara ini juga mendapat dukungan istimewa dari Puteri Indonesia Lingkungan 2025, Melliza Xaviera Putri Yulian, Miss International 2024 Thin Than Thuy, dan Miss Nami Arafah dari Green Edelweis Foundation.
Tak hanya itu, acara ini juga dihadiri oleh tokoh nasional Bahar Buasan, Pimpinan Komite I DPD RI, yang hadir menyampaikan dukungan atas keterlibatan aktif generasi muda dalam isu konservasi lingkungan.
“Saya sangat senang dan bersyukur bisa mewakili Indonesia di forum internasional sebesar ini,” ungkap Sifa dengan penuh semangat.
Ketertarikan Sifa terhadap isu lingkungan tumbuh dari pengamatannya sebagai mahasiswa kesehatan. Ia menyaksikan secara langsung bagaimana perubahan iklim berdampak signifikan terhadap kualitas hidup dan kesehatan masyarakat.
“Sebagai calon tenaga kesehatan, saya paham bahwa kesehatan dan lingkungan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Krisis iklim hari ini bukan hanya masalah cuaca ekstrem, tapi juga masalah kesehatan masyarakat jangka panjang,” jelasnya.
Dari 1.000 lebih pendaftar dari berbagai negara, Sifa berhasil lolos sebagai salah satu delegasi Indonesia berkat gagasan kampanye lingkungan yang ia usung dan konsistensinya sebagai aktivis muda.
Di forum ini, Sifa mengusung kampanye bertema “Krisis Iklim Akibat Polusi dan Budaya Konsumtif dalam Fast Fashion”, sebuah isu yang menurutnya sering luput dari perhatian generasi muda.
“Industri fashion saat ini menyumbang sekitar 10% emisi karbon global dan menjadi salah satu pencemar air terbesar di dunia. Gaya hidup konsumtif, membeli pakaian hanya karena tren sesaat, menjadi bagian dari masalah besar ini,” ujar Sifa.
Melalui kampanyenya, ia mengajak anak muda untuk lebih bijak dalam berbelanja, memilih fashion yang berkelanjutan, serta mendukung merek lokal yang ramah lingkungan.
Tak hanya itu, Sifa juga mengangkat isu polusi kendaraan bermotor yang menjadi pemicu utama kualitas udara buruk di perkotaan. Ia menyoroti pentingnya pengurangan emisi gas rumah kaca dengan menggalakkan penggunaan transportasi umum dan energi bersih.
“Kita harus sadar, setiap langkah kecil kita seperti memilih naik transportasi umum, mengurangi konsumsi energi, atau menggunakan produk daur ulang, bisa membawa dampak besar bagi bumi,” tambahnya.
Tak hanya menjadi peserta aktif, Sifa juga berhasil membawa pulang penghargaan “Best Group Idea Project” dalam rangkaian Asia Youth Green Summit 2025. Proyek kolaboratif yang ia gagas bersama delegasi lain menyoroti pentingnya edukasi digital seputar konsumsi berkelanjutan, dan diakui sebagai salah satu gagasan paling relevan dan aplikatif dalam menyikapi isu lingkungan saat ini.
Dalam kesempatan ini, Sifa juga menyoroti pentingnya peran pemuda dalam menghadapi tantangan lingkungan. Dengan lebih dari 60% populasi dunia di bawah usia 30 tahun tinggal di Asia Pasifik, menurutnya pemuda harus menjadi pemimpin, bukan hanya penonton.
“Kita akan menjadi generasi yang paling lama hidup dalam dampak perubahan iklim. Maka dari itu, ini bukan hanya masalah global, tapi juga masalah personal. Kita harus terlibat sekarang,” tegasnya.
Sifa berharap keikutsertaannya dalam Asia Youth Green Summit bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga dapat menginspirasi anak muda Indonesia lainnya untuk lebih peduli pada lingkungan.
“Saya ingin mengajak teman-teman semua untuk mulai dari hal kecil kurangi plastik sekali pakai, hemat energi, tanam pohon, dan suarakan isu lingkungan di media sosial. Jangan pernah anggap kecil langkah kita, karena setiap suara itu penting,” ujarnya.
Sebagai bagian dari SDG’s Green Initiator 2025, Sifa kini aktif mengedukasi masyarakat melalui konten-konten media sosial seputar lingkungan. Ia percaya bahwa media sosial adalah alat yang kuat untuk perubahan, terutama jika digunakan untuk menyebarkan kesadaran dan solusi.
“Peduli lingkungan bukan soal tren—ini soal kelangsungan hidup. Jika kita menjaga bumi hari ini, bumi akan menjaga kita esok. Mari jadi generasi yang bukan hanya mewarisi dunia, tapi juga memperbaikinya,”pungkasnya. (wdy)






