SUKABUMI – Bencana alam yang melanda Kabupaten Sukabumi telah menimbulkan kerusakan parah saluran irigasi di sejumlah wilayah. Hingga saat ini, tercatat 39 kecamatan yang terdampak oleh berbagai bencana hidrometeorologi, seperti hujan lebat, banjir, longsor, pergerakan tanah, dan angin kencang. Selain merusak infrastruktur, bencana ini juga menyebabkan kerusakan signifikan pada fasilitas publik, salah satunya adalah saluran irigasi.
Kepala UPTD PSDA Wilayah Sungai Cisadea-Cibareno, Lusie Musianty mengatakan, mengungkapkan bahwa dari 12 Daerah Irigasi (DI) yang ada di Kabupaten dan Kota Sukabumi, delapan diantaranya terdampak bencana alam tersebut. Yakni, saluran irigasi di DI Cimandiri, DI Cisalada, DI Cipeundeuy, dan DI Cibeureum yang ada di wilayah perbatasan Kota dan Kabupaten Sukabumi.
“Sementara, untuk saluran irigasi di wilayah Pajampangan yang terdampak dari bencana itu. Diantaranya, DI Cikarang Wulung, DI Cigangsa, DI Ciseureuh, dan DI Cibeureum,” kata Lusie Musianty saat ditemui Radar Sukabumi di ruang kerjanya, tepatnya di Jalan Raya Bhayangkara, Kota Sukabumi pada Rabu (18/12).
Dari delapan saluran irigasi yang terdampak bencana alam tersebut, sambung Lusie, untuk kategori kerusakannya dinilai bervariasi, mulai dari saluran irigasi yang tertimbun longsor hingga tanggul yang jebol akibat banjir. Diantara seluruh daerah irigasi yang terdampak bencana alam di Sukabumi ini, yang paling parah mengalami kerusakan terdapat di wilayah DI Jampang Kulon, dimana hampir semua saluran irigasi mengalami kerusakan berat.
“Saluran irigasi yang mengalami kerusakan cukup parah itu, berada di saluran DI Cikarang Wulung dan DI Ciseureuh Cibeureum yang berada di wilayah Kecamatan Jampangkulon,” paparnya.
Lusie juga menjelaskan, bahwa kerusakan pada irigasi ini mengancam kelangsungan irigasi untuk ribuan hektare lahan pertanian. Diantaranya, saluran irigasi DI Cimandiri mengairi lahan pertanian seluas 1.217 hektar, DI Cibeureum 25 hektar, DI Cipeundeuy 515 hektare, DI Cisalada 632 hektare, DI Cikarang Wulung 1.800 hektar, DI Cigangsa 1.200 hektare, dan DI Ciseureuh serta Cibeureum 1.200 hektar.
“Jadi, memang ada ribuan hektar lahan pertanian, khususnya lahan persawahan yang tidak bisa teraliri air secara maksimal karena bencana alam itu,” ujarnya.






