BERITA UTAMA

Datangi Sukabumi, Menag RI Serukan Penolakan Kekerasan di Lingkungan Pesantren

×

Datangi Sukabumi, Menag RI Serukan Penolakan Kekerasan di Lingkungan Pesantren

Sebarkan artikel ini
DIWAWANCARAI : Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, saat diwawancarai Radar Sukabumi, saat mengunjungi Ponpes Yaspida Sukabumi pada Selasa (19/11) malam.(FOTO : DENDI/RADAR SUKABUMI)
DIWAWANCARAI : Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, saat diwawancarai Radar Sukabumi, saat mengunjungi Ponpes Yaspida Sukabumi pada Selasa (19/11) malam.(FOTO : DENDI/RADAR SUKABUMI)

SUKABUMI – Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, mengimbau kepada seluruh pondok pesantren di Indonesia untuk memastikan tidak ada kekerasan di dalam lingkungan pesantren, termasuk kekerasan fisik dan kekerasan seksual. 

Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Agama RI usai mengunjungi Pondok Pesantren Yaspida Sukabumi, yang baru-baru ini mengalami bencana longsor yang menyebabkan empat santri meninggal dunia dan lima lainnya luka-luka akibat tertimpa dinding pematang kolam. 

Bank bjb Tandamata

Menurut Imam Besar Masjid Istiqlal, bahwa kekerasan baik oleh guru maupun sesama santri sama sekali tidak boleh terjadi. Selain itu, ia juga menegaskan pentingnya manajemen yang memperhatikan risiko-risiko yang ada, baik dalam aspek fisik maupun lingkungan pesantren.

“Di Indonesia tercatat ada 41 ribu pondok pesantren yang terdaftar di Kementerian Agama, meskipun masih ada yang belum terdaftar. Kami juga membentuk lembaga yang disebut Majelis Masyayikh yang berfungsi untuk memberikan pengawasan khusus terhadap pesantren-pesantren tersebut,” ujarnya.

Nasaruddin Umar juga menegaskan pentingnya pondok pesantren untuk menjadi tempat yang ramah anak dan mengutamakan keselamatan. Sebab itu, ia mengingatkan agar setiap pondok pesantren memiliki manajemen risiko yang baik, termasuk dalam hal pembangunan dan perawatan fasilitas.

Kunjungan Menteri Agama tersebut menjadi momentum penting untuk mendorong perbaikan dan pengawasan yang lebih ketat terhadap keamanan dan kesejahteraan santri, serta memastikan pesantren menjadi tempat yang aman dan mendidik bagi semua pihak.

“Seluruh Ponpes juga harus memiliki manajemen risiko, kami juga akan memberikan imbauan karena pembangunan-pembangunan itu kadang-kadang tidak standar, maka itu manajemen risiko pada perencanaan pondok sampai nanti pada pelaksanaannya kita akan ikut mengawasi,” pungkasnya. (den/d)