Oleh : Handi Salam
BIASANYA Pagi-pagi sepi. Mendadak orang ramai bercerita. Padahal Masjid sepi. Ya gempa Pangandaran yang berkekuatan 5,5 Magnitudo membangunkan tetangga saya dan sebagian masyarakat Sukabumi.
Mereka cemas, buktinya menulis status sebagai tanda. Ada gempa pukul 05:43 WIB di kedalaman 14 KM ini setidaknya mempercepatkan keramaian. Padahal Sukabumi sebelumnya ada dua gempa dan bahkan lima dari Rabu Malam terjadi.
Dipukul 02:56 WIB gempa 1,8 Magnitudo terjadi di wilayah Sukabumi dengan kedalaman 9 KM. Lalu pada pukul 04:18 WIB terjadi gempa kekuatan 1,8 Magnitudo dirasakan kembali.
Gempanya kecil tidak membuat orang bangun dan cemas. Jika dihitung semingu kebelakang, ada puluhan gempa terjadi di Sukabumi. Namun kecil Skalanya.
Gempa kecil tidak berbahaya. Semakin sering terjadi gempa skala kecil, terhindar dari gempa besar. Itu kata pengamat. Katanya energi dari pergeseran dan tumbukan lempeng, dilepas secara perlahan. Lain cerita jika jarang gempa kecil.
Ucapan itu pernah saya dengar langsung dari pakar gempa yang pernah ditemui pada 2018 silam Dr. Hamzah Latief ahli Tsunami dari ITB. Masyarakat harus mencatat dan berfikir, bahwa gempa itu tidak membunuh kalau masyarakatnya siap untuk selamat, yang membunuh kecemasan dan kurang faham soal mitigasi bencana.
Persiapkan diri, perbanyak ilmu soal gempa. Karena sadar bahwa Daerah Jawa barat, khsusunya Sukabumi memiliki Sesar Aktif yakni Sesar Cimandiri dan anak-anaknya seperti sesar Walat, Sesar Citarik, Sesar Cicareuh, Sesar Cicatih.
Anak-anak Sesar ini memotong Sesar Cimandiri itu melalui daerah yang cukup labil. Apabila terjadi gempa bumi pada lajur sesar ini akan merusak daerah yang labil tersebut.
Dari hasil plotting para ahli beberapa gempa yang terjadi beberapa puluh tahun terakhir, titik pusat gempa berada pada lajur sesar yang memotong lajur Sesar Cimandiri. Sehingga bisa disimpulkan, sesar-sesar yang memotong Sesar Cimandiri sebagai sesar aktif.
Negeri ini memang negeri moster para dewa. Tapi, ada baiknya. Banyak kandungan zat bumi yang mempuni dari mulai emas, nikel, dan gas dan bahan lainnya ada dan melimpah. Konon akibat letusan gunung merapi dahulu.
Diperbatasan Sukabumi dan Bogor ada Gunung Salak, yang peneliti sebut sebagai gunung purba. Sementara di bandung merupakan danau purba yang juga memiliki sesar aktif yakni sesar lembang.
Planet kita memang memiliki catatan suram tentang sesar, Pada 12 Juli 1976 saja, Patahan Thangsan Cina memicu Lindu yang menewaskan 240 ribu orang. Lalu ada gempa Iran pada 1990 yang menelan jiwa 40 ribu.
Sesar Disana Patahan Disini
Patahan Cimandiri yang terbentang dari Pelabuhanratu Sukabumi sampai Cianjur, dengan tinggi rata-rata 15 meter dari tanah berdasarkan penelitian terbaru dari pusat survei geologi kecepatan sesar ini, 0,6 Sampai 1,4 Milimeter pertahun.
Bahkan sebelum Cianjur terkena gempa kemarin, terjadi gempa pada tahun 1844 di Cianjur, 1910 Rajamandala, dan Cimandiri 1982. Wajar saja gempa kembali terjadi. Meski saat ini masih diperbedabatkan gempa Cianjur sebetulnya bukan dari Sesar Cimandiri, tetapi dari sesar lain yang belum diberinama dan muncul kembali mengingat jalurnya bukan pada peta yang sudah ditetapkan. Tapi tetap saja harus diwaspadai.
Perhitungan berbeda dikemukakan oleh peneliti ITB Irwan Meilano, ahli permodelan gempa bumi dan deformasi pemukiman bumi ini menghitung kecepatan gerak sesar cimandiri jauh lebih besar yaitu 4 Milimater pertahun, Potensi kekuatan gempapun bisa lebih besar yakni 7,2 Magnitindo. Ini harus Jadi Perhatian.
Dirinya juga memberikan warning pada patahan baribis yang melengkung putus-putus dari barat ke selatan. Meski bukan ancaman, tapi harus hati-hati.Tercatat sesar ini pernah bergucang pada tahun 1853 Cirebon, Karawang 1862, Kuningna 1875, Sumedang 1972 dan majalengka 1991.






