Oleh Kang Warsa
Literatur tentang haji yang pernah saya baca yaitu buku Haji tulisan Ali Shariati. Haji bukan sekadar ritual tahunan untuk orang-orang mampu, lebih dari itu mengandung pesan-pesan spiritual dalam setiap gerak-gerik, aktivitas yang dikerjakan, hingga pakaian (ihram) yang dikenakan.
Muslim yang menunaikan ibadah haji sering disebutkan telah mendapatkan “undangan dari Allah SWT”. Hal ini menyiratkan siapapun yang berkelimpahan dengan harta dan memiliki kemampuan untuk membiayai dirinya pergi berhaji belum tentu dapat menunaikan ibadah haji. Hanya orang-orang mampu berkecukupan dan terketuk hatinya yang mendapatkan “undangan” dari Allah kemudian menunaikan haji sebagai salah satu fondasi keislaman dalam Rukun Islam.
Ada pertanyaan menarik tentang haji, kenapa seseorang mau berangkat ke Mekkah menunaikan ibadah haji meskipun harus mengeluarkan uang puluhan juta? Apalagi tidak sedikit orang-orang di perkampungan yang rela menjual tanah dan lahan untuk mengongkosi mereka pergi menunaikan ibadah haji? Dalam hal ini, devosi atau kecintaan kepada agama yang dianut memang sering tampak bertolak belakang dengan logika kita. Bukankah uang puluhan juta itu lebih baik disedekahkan untuk mendanai kegiatan sosial seperti menyantuni jompo dan fakir miskin?
Tidak demikian, haji merupakan ibadah yang memerlukan pengorbanan besar, dari materil hingga moril,jasmani dan rohani. Mengesampingkan bisikan-bisikan lain seperti “lebih baik uang ditabung atau disedekahkan saja kepada orang-orang yang membutuhkan”. Dalam hal ini, ibadah memang memiliki tingkat dan cara tersendiri untuk diaplikasikan. Jadi, tidak menjadi soal apakah seseorang memilih menunaikan ibadah haji dengan biaya puluhan juta atau sekadar mendermakan hartanya kepada orang-orang papa. Kualitasnya ditentukan oleh kebersihan nurani dan rela berkorban, dan terma agama disebut ikhlas dan ridha.
Karena ibadah haji berhubungan erat dengan pengorbanan inilah, maka siapa saja yang telah terpanggil jiwanya untuk pergi haji harus benar-benar menghempaskan setiap atribut yang sebelumnya sering diperdebatkan, dijadikan rebutan, dan diakui-akui sebagai properti milikku. sejak menginjakkan kaki di dua kota bersejarah Madinah dan Mekkah, para jamaah haji sudah memasuki gerbang spiritualitas, harus rela menghilangkan berkas-berkas bawaaan. Misalnya, kebiasaan berswafoto atau selfie yang menjadi tren eksistensi diri harus dikaburkan. Gerbang spiritualitas akan membuat jeda antara Aku sebagai ego dengan sang diri sebagai makhluk ruhani.
Saya belum pernah ke Mekah, namun dipaksa untuk dapat merasakan bagaimana pengalaman spiritualitas tumbuh dalam diri ketika diri yang fana bersimpuh di hadapan Dia Yang Maha Kekal. Atribut keduniawian seperti harta, jabatan, keegoan, dan kekuasaan menjadi noktah dan titik kecil di antara pancaran cahaya kemilau. Pengalaman spiritualitas ini sering membangunkan rasa dan perasaan, membangkitkan semangat histeria, dan mendekatkan siapapun pada pengalaman batin yang paling dalam hingga jiwa menyentuh suasana ekstase, merasa terhubung dengan Dia Yang Maha Akbar.
Di antara lautan manusia yang mengitari Kabah, seseorang tidak lagi memandang dirinya sebagai subjek tunggal dalam kehidupan. Ia akan melupakan dirinya sebagai apa saat berada di kampung halaman, ia justru larut dalam kohesivitas kesadaran tertinggi yang mengikrarkan dirinya bukan apa-apa di tengah lautan manusia. Ia hanya berjalan mengalir mengitari Ka’bah seperti Thela yang mengapung di ruang hampa tidak mau lepas dari tarikan Bhumi.
Seseorang yang menunaikan Tawaf mengelilingi Ka’bah serupa dengan siklus kehidupan di dunia fana. Semakin dekat seseorang dengan sumber kekuatan, ia akan lebih cepat menyelesaikan satu putaran atau siklus dalam kehidupan. Sebaliknya semakin jauh dari sumber kekuatan, maka siklus hidup seseorang akan memerlukan waktu lebih lama dan lambat. Perjalanan manusia ruhani dalam terma seorang Yuval Noah Harari disebut sebagai Homo Deus adalah ketika seseorang sudah tidak memerlukan lagi piranti keras ketika membangun komunikasi dengan siapa saja, walakin ia akan memahami apa yang seharusnya dibahasakan oleh bathin kepada Yang Maha Bathin.
Thawaf merupakan refleksi aktivitas gerak manusia di dalam kehidupan. Tidak perlu grasak-grusuk dalam menghadapi kehidupan, rileks dan santai namun terus berjalan. Hal ini serupa dengan untuk mendapatkan kekuatan dalam hidup, manusia dituntut untuk bersikap tenang, segalanya justru diserahkan kepada skenario hidup ini. Kemana saja kaki melangkah, ini memang telah digerakkan oleh Dia Yang Maha Kuasa. Atribut yang melekat dalam diri misalnya jabatan, sudah seharusnya ditanggalkan dalam kehidupan ini ketika kita telah berada di tengah samudera manusia dalam membangun hubungan sosial. Kepercayaan orang lain kepada diri kita ditentukan oleh seberapa dalam perasaan kita bisa bersatu dengan diri mereka.
Hal paling pertama dilakukan dalam ibadah haji yaitu mengenakan ihram dan miqat, ini berarti memiliki kesadaran bahwa diri memang sedang berada di Mekah untuk menunaikan ibadah. Setiap jamaah diwajibkan bersuci, menyucikan pikiran dan perasaan dari bisikan-bisikan untuk mengekspos diri. Ihram sendiri sebetulnya memiliki makna menempatkan diri pada khittah diri sebagai manusia makhluk ruhani. Ruhani tidak memerlukan embel-embel dan tirani ego, pakaian ihram tidak memerlukan atribut dan emblem yang biasa kita sematkan pada pundak, saku kanan kiri, dan bagian atas lengan baju. Pakaian ihram tidak memerlukan atribut komplementer seperti topi, songkok, bahkan mahkota. Jemaah haru merasakan panas dan dingin sebagaimana alam ini telah menyediakan unsur-unsur kehidupan yang saling paradoks dan kontradiktif.
Perjalanan ke Arafah merupakan lintasan lurus para jemahaan seperti perjalanan dalam kehidupan. Manusia harus terhubung dengan manusia lainnya sebagai makhluk sosial, dalam bagian kehidupannya. Kendati demikian, di antara kerumunan jamaah lainnya, manusia dituntut untuk menyadari diri sendiri hakikatnya sebagai makhluk yang harus sunyi dari keriuhan. Seorang jemaah haji tidak diperkenankan mengeluarkan serapah kepada orang lain meskipun terinjak kaki, terhimpit badan, tertindih kepala, dan tersikut oleh orang lain. Ia harus merasakan bahwa dirinya benar-benar menjadi bagian dari orang lain, larut dalam rasa, dan pada tahap berikutnya benar-benar berpadu dengan alam sekitar. Arafah berarti mengenal atau perkenalan, yaitu suatu kondisi ketika seorang jemaah haji harus mampu menyadari dirinya sendiri, siapa aku, apa tugasku, dan untuk apa aku?
Wukuf di Arafah menuntut jemaah haji untuk menghentikan aktivitas lahiriah. Aktivitas dan gerak batin harus mendominasi dalam setiap helaan dan hembusan nafas. Nafas adalah dzikir, denyut nadi adalah pengingat, dan setiap aliran darah pada pembuluhnya adalah untaian kalimat kebaikan. Kehidupan memerlukan ruang sunyi dan keberhentian dari sikap onar dan merasa bahwa diri selalu mampu dan serba bisa. Ingar bingar kompetisi dalam kehidupan sama sekali tidak berarti di saat manusia berada di ruang sunyi. Dalam situasi ini yang lahir justru sikap pasrah diri. Ruang sunyi ini diperlukan di dalam kehidupan modern untuk mengeliminasi saling hujat, kekasaran sikap, dan saling berebut lahan kekuasaan. Praktik ritual haji memang harus ditransformasikan ke dalam kehidupan ini bukan sekadar dimiliki oleh para jamaah yang sedang menjalankan wukuf di Arafah.
Praktik Mabit di Muzdalifah menjadi pertanda kefakiran dan kemiskinan diri. Diam sejenak, di bawah bentang cakrawala merupakan upaya untuk menyadarkan manusia di kesemestaan hidup. Manusia hanya noktah tidak berarti apapun kendari sering merasa dan memandang bahwa dirinya sebagai pusat kehidupan dalam sikap antroposentris. Manusia bukan pusat segalanya, ia hanya bagian terkecil dari alam dan sama sekali tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap gerakan-gerakan alam. Sekadar untuk memindahkan laju dan gerak angin dari satu arah ke arah lain pun manusia sama sekali tidak memiliki kekuatan. Di antara manusia sendiri memang ada manusia yang merasa memiliki kekuatan dan pengaruh. Dengan kipas angin ia merasa mampu menggerakkan angin dalam waktu terbatas. Esok hari saya atau anda mungkin akan meninggalkan dunia ini, lantas apa pengaruhnya terhadap gerakan matahari dari timur ke barat? Sama sekali tidak memiliki pengaruh. Itulah konsep kemiskinan diri saat Mabit di Muzdalifah.
Melontar Jumrah merupakan ritual sebelum praktik haji memasuhi azimut spiritual. Melemparkan batu pada sebuah tugu yang terbuat dari beton atau batu itu berarti para jamaah harus menghilangkan sikap keras kepala, keras hati, dan keras watak. Meskipun dalam banyak cerita disebutkan sebagai simbol perlawanan terhadap setan, walakin pada dasarnya diri kita sendirilah yang harus melemparkan sifat sataniah dalam diri. Setan adalah malware dalam diri manusia, ia hanya bergerak ketika dalam diri kita tidak memiliki perisai atau malah diri kita sendiri yang memproduksi malware ini.
Dengan tidak mengabaikan praktik tahalul atau mencukur rambut. Puncak tertinggi dalam ibadah haji yaitu melenyapkan sikap kebinatangan dalam diri. Jamaah haji dan diri kita sebagai manusia harus kembali menjadi manusia. Ibadah haji adalah rangkaian pelajaran berharga bagi manusia untuk mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan saat kembali ke kampung halaman. Ibadah haji ibarah universitas kehidupan yang membekali jemaah haji agar bersikap sebagai manusia ruhani ketika mereka berpadu kembali dengan keluarga dan masyarakat.
Selamat Idul Adha..





