SUKABUMI– Banyak perusahaan rintisan yang ingin hadir secara global sering kali mengalami kesulitan. Dengan Internet berkecepatan tinggi, layanan komunikasi suara dan video berkualitas tinggi, dan lebih banyak peluang pendanaan untuk startup, tidak semudah ini untuk memasuki pasar global
“Dunia saat ini semakin saling terhubung. Dalam lima tahun terakhir, kegiatan kewirausahaan di seluruh dunia meningkat karena banyak bentuk akselerator, entitas investasi inkubasi, investor, pemodal ventura. Kekuatan pendorong besar lainnya adalah banyak negara telah mengadopsi kewirausahaan sebagai strategi nasional,” ujar Dosen Teknik Elektro Universitas Nusa Putra Aryo De Wibowo dalam membuka perkuliahan Technopreneurship.
Lanjut ia menambahkan, Hub startup bermunculan di banyak negara. Tel Aviv, New York City, dan Silicon Valley bukan lagi satu-satunya tempat yang layak untuk meluncurkan perusahaan atau menemukan orang-orang berbakat.
Pengusaha generasi baru bidang teknologi muncul di seluruh dunia. Sebagian dari mereka fokus melayani pasar lokal, sebagian lagi akan melayani pasal global. Pengusaha teknologi global ini akan menjadi kekuatan utama untuk membentuk masa depan ekonomi dan inovasi. Mereka akan secara signifikan mengubah cara orang hidup, bekerja, dan belajar.
“Keinginan menjadi pengusaha teknologi global semakin umum di kalangan masyarakat, tetapi itu tidak mudah. Untuk berhasil dan meraih peluang besar membutuhkan perolehan pola pikir baru dan keterampilan serta kontak baru.” sambung Aryo
Berikut sarannya tentang cara sukses di pasar global:
1. BUDAYA ADALAH KUNCI
Pahami budaya negara tempat ingin beroperasi dan bagaimana peran teknologi mendukung budaya. Budaya adalah inti dari segalanya. Apabila mengalami kendala dan peraturan bisnis rumit di kawasan itu, solusinya adalah pekerjakan penduduk setempat. Mereka akan memahami masalah ini dan menjadi kunci untuk membangun bisnis dan kemitraan.
2. BERPIKIR GLOBAL
Pertimbangkan untuk menyiapkan perusahaan Anda menjadi global sejak awal. Mulailah dengan memilih mitra pendiri yang berada di lokasi yang diinginkan. Pilih orang untuk duduk di dewan dan dewan penasehat yang memahami cara kerja di wilayah itu. Solusi pertama yaitu Direktur dan penasehat harus berasal dari industri yang berbeda dan belahan dunia yang berbeda. Hal ini bisa berarti memiliki kantor di beberapa lokasi sehingga dapat menambah keberagaman karyawan perusahaan.
Solusi kedua: Menyewa kantor mungkin mahal jika baru memulai, terutama di area seperti Lembah Silikon (Silicon Valley). Sebagai gantinya, pertimbangkan untuk menggunakan tempat kerja bersama (CoWorking Space). Hampir setiap kota besar memilikinya. Tidak harus selalu memiliki kantor di negara tempat beroperasi. Selama pandemi COVID-19, orang-orang telah belajar bahwa kerja jarak jauh bisa efektif. Karyawan sekarang berkolaborasi melalui Zoom, Microsoft Teams, dan alat konferensi Web lainnya. Pekerjaan jarak jauh dan perjalanan jarak jauh telah menjadi norma baru dan perilaku baru ini akan bertahan bahkan ketika pandemi berakhir.
3. LEBIH BANYAK DANA YANG TERSEDIA
Beberapa akselerator telah mengalami ekspansi global dalam beberapa tahun terakhir dan sekarang memiliki kantor di seluruh dunia. Mereka termasuk Founders Space , Plug and Play , Startupbootcamp , Techstars , dan Y Combinator .
Negara-negara sedang mendirikan kantor pembangunan di seluruh dunia untuk membantu mendanai usaha warganya. German Accelerator, sebuah usaha yang didukung oleh pemerintah Jerman, membantu startup beroperasi di Boston, New York City, Silicon Valley, Singapura, dan di tempat lain. Melalui Innovation Center Denmark , pemerintah di Kopenhagen membantu perusahaan Denmark masuk ke pasar baru termasuk di Boston, Munich, dan Seoul.
4. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN GLOBAL
Pertimbangkan untuk memecahkan masalah yang memiliki dampak global. Meskipun memulai memecahkan masalah di wilayah lokal, pikirkan apakah solusinya dapat digunakan di bagian lain dunia. Contoh: Perusahaan Zipline, yang menggunakan drone untuk mendistribusikan produk medis. Didirikan pada tahun 2014, perusahaan ini berbasis di Silicon Valley. Perusahaan Startup ini merancang, membangun, dan mengoperasikan pesawat tak berawak kecilnya mulai dengan mengirimkan pasokan medis dari pusat distribusinya di Ghana dan Rwanda. Saat sekarang perusahaan telah memperluas operasinya ke India, Filipina, dan Amerika Serikat.
Contoh lain adalah Brex , perusahaan jasa keuangan yang dirancang untuk startup. Brex menggunakan kecerdasan buatan untuk menilai risiko kredit startup tahap awal. Para pendiri Brex mendirikan perusahaan jasa keuangan ini di Brasil. Setelah mendapatkan pengalaman di sana dan melihat beberapa kesuksesan, mereka pindah ke San Francisco pada 2017 untuk meluncurkan Brex. Ini adalah salah satu sistem pembayaran dengan pertumbuhan tercepat untuk startup. Tahun lalu Forbes melaporkan bahwa Brex telah mengumpulkan dana $315 juta dan bernilai $2,6 miliar .
“Jika dapat memecahkan masalah yang penting baik skala lokal maupun global, maka dapat membantu (startup) lebih cepat tumbuh,” pungkasya. (wdy)






