NASIONAL

Soal Keptusan Jokowi, Epidemiolog: Pilihan yang Berat

×

Soal Keptusan Jokowi, Epidemiolog: Pilihan yang Berat

Sebarkan artikel ini
Jokowi
Presiden Joko Widodo (Jokowi) memutuskan akan memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) hingga 2 Agustus 2021. (capture dok BPMI)

JAKARTA -– Presiden Joko Widodo (Jokowi) memutuskan akan memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) hingga 2 Agustus 2021. Kali ini mulai ada pelonggaran pembatasan. Misalnya, pedagang kaki lima sudah boleh beroperasi dengan protokol kesehatan ketat dan boleh makan di tempat dengan waktu maksimal 20 menit.

Menanggapi hal ini, Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan, memang idealnya yang harus dilakukan adalah PPKM darurat atau semi lockdown. Namun ia mengakui, untuk kondisi saat ini itu adalah pilihan paling sulit dan berat secara sosial ekonomi dan politik.

Bank bjb Tandamata

“Ya memang paling ideal dilanjutkan, tapi memang berat, dari sisi ekonomi sosial politik. Idealnya memang dilanjutkan, saat ini pun PPKM itu bukan paling ideal. Harusnya kan lockdown, PPKM darurat kan semi lockdown lah. Ya memang untuk kondisi saat ini sulit dan berat ya masyarakat melanjutkan itu,” tegas Dicky kepada JawaPos.com (jaringan radar Sukabumi), Minggu (25/7).

Namun memang, kata dia, meski dilonggarkan semestinya harus dilakukan secara bertahap. Ia mengusulkan agar pegawai kantoran wajib tetap harus bekerja dari rumah atau WFH.

“Kalau mau melonggarkan, maka aturlah sesuatu yang memang bisa dikendalikan. Salah satu yang paling memungkinkan itu 80-90 persen adalah WFH tetap wajib dari rumah. ASN, kantor swasta, BUMN harus tetap WFH. Tapi WFH juga harus serius dan konsisten, jangan WFH malah jalan-jalan ke mana-mana,” tegasnya.

Dicky juga menegaskan agar karyawan atau pekerja dengan penyakit komorbid tetap harus bekerja dari rumah. Ia mengingatkan meski mulai dilonggarkan, semestinya, testing dan tracing serta treatment harus optimal, dan protokol kesehatan harus tetap berjalan.

Seiring dengan mulai dilonggarkannya lagi fasilitas perekonomian masyarakat di tengah kasus dang angka kematian yang masih tinggi, Dicky menegaskan 3T terutama testing dan tracing menjadi kelemahan Indonesia. Semestinya dengan kasus aktif hampir 600 ribu, dan kasus harian 50 ribu sehari, ia mengusulkan testing harus 1 juta per hari.