BERITA UTAMACATATAN DAHLAN ISKAN

Lambe Shannen

×

Lambe Shannen

Sebarkan artikel ini
lambe shannen

Maaf, saya pakai diksi lambe pada judul. Ini bukan terafiliasi oleh akun gosip.

Maaf juga membahas Shannen. Ini bukan nyindir. Bukan juga tulisan endorse atau promosi.

Bank bjb Tandamata

Yang pasti, Shannen adalah bisnis kekinian yang lagi viral. Di kalangan emak-emak milenial.

Brand ini lahir pada Desember 2018 lalu. Belum setahun, tapi konsumennya sudah bejibun. Minta ampun.

Saya pun tergelitik untuk mencari tahu tentang Shannen. Hasilnya, Shannen adalah lipstik biasa yang jadi luar biasa karena sistem marketing yang tidak biasa.

Padahal ada banyak brand makeup paling sohor dibandingkan Shannen. Tapi Shannen cerdik. Dia menerapkan sistem multi level marketing untuk menyokong pemasarannya.

Berdasarkan hasil observasi sementara saya, Shannen menawarkan dua hal kepada pelaku yang sangat tepat. Bisnis MLM dan lipstik yang memiliki daya tahan kuat dipakai di bibir. Dan pelakunya adalah wanita.

Setidaknya tiga hal tentang wanita adalah: gemar bersolek, suka bersosial, dan senang mengelola uang.

Mungkin, ketiga hal ini yang diolah oleh Shannen. Hasilnya, berhasil. Shannen sukses menjadi trending bisnis saat ini.

Saya tidak begitu paham tentang kecantikan. Tapi yang saya tahu, tren kecantikan diawali oleh alias, lalu wajah glowing. Dan kini urusan bibir.

Bibir adalah salah satu bagian tubuh terpenting bagi wanita. Bibir itu penentu kecantikan, menurut saya. Dan mood wanita, terkadang ditentukan oleh warna lipstik pada bibir.

Ada yang penganut paham merah merokah. Atau warna pucat. Ada pula warna anti mainstream seperti ungu, hijau dan hitam. Yang pasti, wanita tidak ingin ada bekas lipstik pada gelas saat minum. Wanita tidak ingin lipstiknya hilang.

Bibir pula salah satu modal wanita-wanita memasarkan Shannen. Selain untuk objek demonstrasi produk, bibir digunakan untuk berkomunikasi, untuk promosi. Bisa dibayangkan kan, betapa serunya para wanita atau emak-emak mendagangkan produk Shannen. Ya, seru!

Harga Shannen di marketplace kurang lebih Rp 129.000. Harga paling murah untuk sebuah kualitas yang mahal. Harga inipun yang paling murah dibandingkan brand pendahulunya. Sehingga wajar Shannen menjadi bisnis yang menggiurkan.

Shannen mungkin bukan bisnis kecantikan pertama yang menerapkan sistem MLM. Sebelumnya yang paling wah adalah Oriflame. Lalu, apa bedanya dengan Shannen.

Hasil berselancar di internet, Shannen adalah produk kecantikan lokal. Ya produk asli Indonesia. Yang menggunakan bahan-bahan alami yang mudah ditemukan. Mungkin yang dimaksud adalah bahan organik. Tentu ini sangat menarik, karena bahan organik dinilai yang terbaik

Inilah nilai plus Shannen. Di balik ragam pesona warna dan daya pikat bisnisnya.

Sepertinya, para pengusaha di Indonesia, di Sukabumi, harus belajar kepada Faradina Dwi Safitri sebagai salah seorang petinggi bisnis Shannen. Dan sepertinya, dia harus mengajarkan kepada kita tentang apa itu bisnis.

Shannen terlanjur menjadi wabah baru di dunia bisnis. Hampir semua teman saya dari kalangan wanita, yang ada di jejaring media sosial, menjadi pelaku Shannen.

Demi Shannen, ada yang dari Sukabumi rela memprospek calon konsumennya di luar kota. Seperti Cianjur, Bogor, Bandung, Bekasi dan lainnya. Ini bagus kok. Bahwa siapapun berhak untuk menjadi pelaku bisnis. Termasuk wanita. Atau emak-emak.

Shannen adalah fenomena baru. Kita harus belajar tentang itu. Harus!

Mungkin, bapak-bapak di Indonesia harus menciptakan produk seperti Shannen. Maksudnya, produk keperluan laki-laki. Di tahun 2017-an terkenal dengan Wak Doyok. Produk penumbuh bulu seperti kumis, jambang dan rambut itupun sempat berjaya di masanya. Tapi sayang sekali, Wak Doyok adalah produk impor. Dari negeri jiran, Malaysia.

Mirisnya lagi, si pencipta memakai nama tokoh komedian Indonesia. Mas Doyok.

Yasudah, itu tak mengapa. Mungkin inilah momentum dunia wirausaha lokal berjaya. Kita optimistis saja. Pasca Shannen, ada bisnis-bisnis lokal lainnya yang siap mendunia.

Tapi bolehlah jika kita mengingatkan bahwa sesuatu yang cepat heboh, cepat pula roboh. Semoga tidak. Semoga Shannen tidak demikian. Sehingga dunia usaha tanah air yang sedang berkembang menemukan ritme dan garansi masa depan. Bahwa industri tanah air siap digdaya di negeri sendiri.

(izo/rs)