CITAMIANG, RADARSUKABUMI.com– Gelaran Sukabumi Coffe Festival yang di pusatkan di pelataran museum pegadaian Kota Sukabumi semakin semarak dengan adanya pementasan teater berkonsep Dramatisasi Puisi essay. Ya, sebuah karya seni yang digagas Sukabumi Art Movement (SAM) tersebut sukses menyedot perhatian pengunjung yang datang ke lokasi tersebut.
Teater drama yang berjudul ‘Mata Luka Sengkon Karta’ itu menjadi gairah baru bangkitnya dunia teatrikal di Sukabumi. Terlebih, minimnya ruang apresiasi dan kreasi seniman serta kurangnya antusiame masyarakat terhadap seni pertunjukan dan penciptaan. “Berangkat dari keterbatasan yang ada, kita membentuk sebuah komunitas seni tanpa batas yang bernama Sukabumi art Movement. Berdiri pada sabtu 11 mei 2019 dengan visi Memanusiakan Sukabumi dengan seni dalam ranah jiwa dan raga,” ujar sutradara drama yang juga penggagas SAM, Yan Ilham Andrimu kepada awak media.
Ditambahkan dia, SAM hadir sebagai manifestasi dari cita-cita untuk secara aktif bercerita dalam bermacam bentuk dan usungan media, mulai dari teater, film, puisi , tarian, musik dan lain sebagainya. Dengan seluruh inovasi teknologi yang terus berkembang sekarang ini, SAM berharap untuk secara aktif memproduksi hiburan yang terpenuhi secara kualitas dari konten yang menyisipkan nilai filosofis, visual yang menyokong imajinasi, hingga persebaran di platform lintas media untuk khayalak luas. “Pementasan pertama kami yang berjudul ‘Lemah Cai Mata’ pada 29 Juni 2019 lalu dengan dihadiri oleh 50 orang praktisi, akademis dan penikmat seni dalam satu pementasan. Peluang tersebut menyemangati para pemain dan crew untuk sekali lagi menghadirkan pementasan teater yang berjudul Mata Luka Sengkon Karta ini,” tambahnya.
Yan mengungkapkan, untuk teater berjudul Mata Luka Sengkon Karta itu bercerita tentang seorang petani yang bernama Sengkon yang diperankan oleh Bagus Ahmad Diazian dan Karta yang diperankan oleh Anra Wiono Nugraha. Sengkon dan Karta adalah petani yang berasal dari Bojongsari, Bekasi, Jawa Barat. Kisah Sengkon dan Karta ini terjadi pada bulan Oktober 1977.
Apa yang menimpa sengkon dan karta adalah salah satu sejarah kelam dunia peradilan kita. Mereka menerima vonis pengadilan negeri bekasi dengan hukuman 12 tahun untuk Sengkon dan 7 tahun untuk Karta atas dakwaan pembunuhan dan perampokan. Sengkon dan Karta mengaku mengalami penderitaan karena dipukul oleh aparat, dan lebih tersiksa lagi sebab Sengkon terserang penyakit TBC yang terus merongrongnya dan tidak ada biaya untuk meneruskan hidup. Sementara Karta menjual habis semua sawah dan tanah untuk menghidupi seorang istri dan 12 anak. “Pementasan ini membawa banyak eksperimentasi baru bagi pemain untuk ditawarkan kepada para calon penonton. Diselipkan tarian kontemporer yang dibawakan oleh Indra Gandara dan diringi musik yang dibawakan oleh Alief Suardi dan Yosep Yogi Anjaeni. Sebelumnya, tentu saja teater ini akan melibatkan cast yang akan bermain peran di atas panggung Teater Gaya Gita Studio Jalan Benteng No.53 Sukabumi,” pungkasnya.
(why/*)




