PALABUHANRATU, RADARSUKABUMI.com, – Peristiwa laka laut kembali terjadi.
Kali ini, lima wisatawan yang tengah berenang di pantai Selatan Sukabumi digulung ombak laut Palabuhanratu, kemarin (11/6).
Berdasarkan data yang tercatat Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) Kabupaten Sukabumi, lima wisatawan yang digulung ombak itu, satu diantarnya bernama Ilham Hendika (17), warga Kampung Kedunghalang, RT 1/6, Kelurahan Sukaresmi, Kabupaten Bogor.
Ia ditemukan meninggal dunia setelah tenggelam di Pantai Karang Hawu pada pukul 15.30 WIB.
Sementara empat wisatawan lainnya yang bernama Muhammad Taufik Alpariji (17), warga Kampung Sawah, RT 1/1, Desa Pabuaran, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, terseret ombak di Pantai Karang Hawu sekira pukul 09.00 WIB dan Ahmad (16) warga Puncak Bogor terseret ombak di Pantai Istiqomah pada pukul 11.30 WIB.
Selanjutnya wisatawan yang tergerus adalah Muhammad Rizki (15).
Ia terseret ombak saat berenang di pantai Nambo Gurilap Cisolok sekira pukul 08.10 WIB. terakhir adalah Lutfi (17), warga Kampung Kedunghalang, RT 1/6, Kelurahan Sukaresmi, Kabupaten Bogor.
Ia terseret ombak di Pantai Karang Hawu pada pukul 15.30 WIB.
“Dari lima korban ini, hanya empat korban yang selamat. Sementara, korban yang bernama Ilham meninggal dunia saat dalam mendapatkan tindakan tim medis di Puskesmas setempat,” jelas Kepala Operasi dan Sumber Daya Manusia (SDM) Balawista Kabupaten Sukabumi, Asep Edom Saepuloh kepada Radar Sukabumi melalui telepon selularnya, kemarin (11/6).
Semua korban yang statusnya masih pelajar ini, sambung Asep, tergulung ombak lantaran mereka tidak menaati peraturan dan larangan Balawista.
“Beruntung saat kejadian para petugas sigap. Sehingga empat korban laka laut ini berhasil diselamatkan,” imbuhnya.
Asep mengaku, seluruh petugas Balawista yang berjaga di sepanjang Pantai Selatan Sukabumi, sudah menghimbau kepada para pengunjung agar tidak beraktivitas di dekat karang.
Namun para wisatawan ini tidak mematuhi peraturan dan larangan tersebut.
“Sehingga, korban terbawa arus kuat dekat karang,” timpalnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, petugas Balawista juga merasa kewalahan saat mengevakuasi korban yang tenggelam di pantai Karang Hawu.
Lantaran, petugas terjebak oleh himpitan karang selama setengah jam.
“Alhamdulillah berkat kerja keras dan kegigihan, akhirnya petugas Balawista yang bernama Muksin berhasil menyelamatkan diri dan mengevakuasi korban,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Forum Komukasi SAR Daerah (FKSD) Kabupaten Sukabumi, Okih Fajri Assidiq mengatakan, di pantai selatan ini, kombinasi antara gelombang pasang surut dan angin lokal yang bertiup kencang, khususnya saat musim barat, menimbulkan ombak besar.
“Di tempat tertentu, penggabungan antara gelombang pasang surut dengan gelombang angin lokal di perairan Teluk Palabuhanratu ini dapat membentuk ombak setinggi 2 sampai 3 meter,” jelasnya.
Menurut Okih, bentuk morfologi dasar laut yang berbatu dan karang di Teluk Palabuhanratu, sangat memungkinkan terjadinya hempasan gelombang dan ombak besar ke pantai yang sekaligus memicu terjadinya arus kuat.
“Sering kali wisatawan yang mandi terlalu tengah, sehingga ketika glombang, ombak besar datang dan menggulung hingga menyeret mereka ke tengah. Terlebih lagi, wisatawan merasa panik karena sudah ada di tengah,” ujarnya.
Ia menambahkan, kebanyakan para wisatawan yang berenang ke tengah laut, selalu melawan arus.
Padahal menurutnya, dengan metode seperti itu mereka tidak akan bisa ke pinggir pantai.
Sehingga, mereka kehabisan tenaga dan badannya lemas, akibat berenang melawan arus.
“Bila terlambat mendapatkan pertolongan, hal ini dapat berakibat fatal dan menyebabkan wisatawan tenggelam karena tergulung ombak.
Ya, cara berenang agar korban dapat kembali ke pantai bila terseret arus adalah dengan berenang memecah arus ke sebelah kiri atau kanan atau tetap diam dan berusaha tetap mengambang.
Ya, intinya kita tidak boleh melawan arus.
Jadi ketika nanti kita sudah ke luar dari arus, kita baru berenang ke pantai dengan bantuan dorongan ombak,” pungkasnya.
(Den/d)






