ARTIKEL

Tanpa Pilihan

×

Tanpa Pilihan

Sebarkan artikel ini
Handi-Salam
Handi-Salam

OLEH : Handi Salam

MUNDUR atau maju adalah pilihan saat berada di depan SPBU saat ini, niat dalam hati membeli Pertalite yang termurah. Yang ada, hanya Pertamax yang jelas harganya sudah Rp12.500 per liter. Mungkin itu bukan hanya Perasaan saya, orang lain juga, Sabar..

Bank bjb Tandamata

Sebagai pegawai biasa, tentunya dalam setiap pengeluaran harus bisa ditekan sekecil-kecilnya. Ekonomi sedang sulit, harga pada naik, lonjakan harga tak bisa ditahan. Jika menerapkan gaya hedonisme, mungkin tidak cukup sebulan bisa makan. Meski tetap makan, ya ujungnya meminjam kanan kiri, Sabar. Ini bukan Curhatan, tapi faktanya memang begitu.

Yuval Noah Harari adalah sejarawan terkenal hari ini, yang memilih untuk tidak memiliki Handphone agar hidupnya tak terinterupsi oleh tsunami informasi. Ada baiknya, namun buruknya seperti terjadi pada teman saya, kaget ketika harga BBM naik pada Jumat Dini Hari 1 April 2022, tanpa sepengetahuannya. Dia tahu Informasi internet saat ini sudah menyebar ke pikiran anak-anak SD. Untuk itu dirinya enggan memiliki Handphone.

Dia beropini, Penyakit Stres tidak hanya di Usia Dewasa, anak-anak juga Stres ketika Handphone tak ada kouta. Padahal kunci Stres adalah membaca buku, karena hanya didalam buku informasi yang didapatkan utuh tanpa disusupi Buzzer-Buzzer pemerintah ataupun oposisi.

Reid Hoffman Dalam Bukunya dalam Judul Blitzscaling menjelaskan bahwa bisnis tak ubahnya seperti dunia peperangan. Semua onak dan duri selalu siap beraksi. Untungnya, bisnis di Negara ini berjalan mulus. Buktinya, pembisnis Minyak Goreng, Alat Kesehatan dan lain-lain tidak bisa terkalahkan, sekalipun oleh pemerintah sendiri.

Sepertinya saat ini, untuk memilih saja susah. Bahan-bahan dan harga sudah ditentukan para penguasa. Sudah diwajibkan memilih saat pemilu, eh malah hasilnya tanpa pilihan, harus mengikuti apa yang dikeluarkan oleh yang dulu kita pilih. Kalaupun ada pilihan, pilihan itu hilang.

“Lebih baik mana murah barang langka, atau mahal barang banyak” adalah sinyal bahwa negara ini sedang dikuasi oleh para pengusaha. Ya mungkin mereka adalah pemodal saat mencalonkan diri. Hanya menduga-duga, karena istilah tidak ada makan siang gratis itu nyata. Celakanya lagi, isu soal perpanjangan jabatan presiden dan isu-isu miring diciptakan pemerintah membuat masyarakat dua kali lipat habiskan energi. Sudah susah, dipaksa berfikir politik yang padahal dangkal pengetahuan, hanya lewat Media sosial dan artikel yang berterbangan di Internet.

Saat ini, semua orang seakan mampu jadi pengamat, menyalahkan dan mengkritisi. Tak ada lagi rasa hormat pada pejabat pemerintah yang abai aspirasi, apalagi barisan opisisi, jelas paling depan. Namun, Buzzer bergerak mengaburkan keinginan publik. Timbul tenggelam masalah demi masalah seakan jadwal rutinan. Kegaduhan yang berujung tanpa gerakan, pemerintah seperti memainkan bola lambung.

Agenda besar tiga Priode mulai dikumandangkan. Dulu hanya sebatas test ombak, sekarang tak lagi. Apdesi salah satunya yang dijadikan contoh awal untuk mengetahui seberapa besar respon Publik. Secara demokrasi kita bisa menolak, tetapi ketika kekuatan besar bertindak, mungkin seperti kasus Minyak Goreng yang terpaksa dibeli meski harganya Sudah Rp53 Ribu per 2 Liter.

Kalaupun jika terhenti di dua Priode, apakah agenda besar bisa tertunda. Apakah ada dampaknya ?, Ya jelas ada. Itu tergantung penerusnya, apakah bisa sejalan dengan investor asing saat ini atau malah sebaliknya. Lagi-lagi mulai dari Nol seperti kata pegawai SPBU ‘Mulai dari Nol Ya. Sejarah memang selalu berulang, situasinya sama zamannya berbeda. Kesusahan ini pernah dialami oleh orang tua dulu, ada yang lulus ada juga yang berhenti dan kalah.

Barangkali kita harus menjalani takdir seperti Sisipus, yang menggulingkan batu setelah ia naikkan ke bukit. Kita sesungguhnya menikmati kerja yang sia-sia. Tapi bahkan yang sia-sia itu pun, dalam lethologica, tak lagi terasa sebagai sesuatu yang mubazir.