Sepanjang Jalan Kenangan: Sukabumi Tahun 80-90an (Bagian 9)

kang-warsa

Oleh Kang Warsa

Kita memang tidak sedang hidup di era kebebasan di tahun 1980-1990. Walakin, tatanan di akar rumput nyata sekali menunjukkan ketertiban yang pada beberapa tahun sebelum kelahiran gerakan reformasi situasi ini disebut pemaksaan dari sistem sentralisasi Orde Baru.

Bacaan Lainnya

Hanya saja, masyarakat akar rumput tidak pernah mau tahu semua itu. Bagi mereka, keluarga inti dapat mengonsumsi telur rebus dibagi dua pun sudah merupakan satu kemewahan. Orde Baru benar-benar menekankan pola hidup sederhana dari mulai kepemilikan properti hingga jumlah anggota keluarga.

Apalagi bagi dunia anak-anak, mereka tidak pernah mau tahu seperti apa sistem pemerintahan yang diterapkan. Hal paling penting bagi anak-anak saat itu adalah mereka tidak kehilangan dunianya, dunia anak-anak yang penuh dengan keceriaan.

Mereka dapat mengenyam pendidikan dengan murah dan terjangkau, uang SPP tingkat dasar saat itu ditetapkan oleh BP3 sebesar Rp. 400,-. Jika dikonversi, nilai sebesar itu sebanding dengan harga satu bungkus rokok saat itu. Alasannya sederhana, kenapa saat itu setiap orangtua diberi beban membayar iuran sekolah, Orde Baru menginginkan muncul swadaya masyarakat di bidang pendidikan.

Materi pelajaran yang diberikan kepada para siswa tingkat dasar juga tidak terlalu beragam seperti sekarang, namun mereka -para siswa- dituntut untuk menghafal nama-nama menteri Kabinet Pembangunan, memahami teori sederhana dalam berhitung, mengenal nama-nama planet, mengerti aksara Jawa yang dianggap serupa dengan aksara Sunda, mengenal dan menghafal nama-nama ibu kota provinsi dan negara-negara di dunia, serta mengenal secara detail ke-35 butir Pancasila.

Secara tidak langsung, teori-teori sederhana ini mampu memengaruhi alam bawah sadar para pelajar dalam mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila. Sistem pendidikan dan pembelajaran seperti ini sebetulnya pernah diterapkan dalam sistem padepokan di masa kejayaan Nusantara. Saat ini sistem seperti ini -demi alasan kemajuan teknologi dan informasi- sudah jarang diterapkan di lembaga pendidikan.

Kita cenderung ingin mengejar ketertinggalan namun dengan tenaga yang tidak terlalu kuat. Penerapan sistem pendidikan tradisional dan yang kita pandang kuno justru telah mampu mengundang pelajar-pelajar dari luar negeri belajar ke perguruan tinggi di negara ini. Contoh seperti ini kiranya memang harus digaungkan kembali. Bukan sekadar melalui kegiatan pertukaran pelajar.

Sistem pendidikan yang dibangun di atas landasan Pendoman, Penghayatan, dan Pengamalan Pancasila (P4) adalah nilai penting dalam pendidikan sebagai lembaga suci yaitu kejujuran. Saya berikan beberapa contoh, bagaimana kejujuran benar-benar diterapkan dalam sistem pendidikan kita pada tahun 80-90an.

Para guru benar-benar memberikan nilai akademik kepada para peserta didik sesuai dengan capaian prestasi mereka. Seorang anak yang mendapatkan nilai 5 saat mengikuti  Tes Hasil Belajar (THB), akan mendapati nilai 5 berwarna merah pada rapornya. Jika tidak ada perbaikan di semester berikutnya, siswa tersebut akan dinyatakan tidak naik kelas, dan harus mengulang kembali belajar di kelas yang sama sampai dapat memperbaiki nilainya.

Kejujuran inilah yang dipegang di dalam dunia pendidikan saat itu. Sangat mustahil seorang guru dapat mengubah nilai siswa karena jika hal itu dilakukan, ia sama saja dengan mengkhianati posisi dirinya sebagai seorang guru dan sama dengan tidak mampu mengajar peserta didik dengan baik. Kejujuran dalam dunia pendidikan sama dengan mengakui apa adanya dan secara objektif terhadap apa saja yang terjadi di satuan pendidikannya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *