ARTIKEL

Sepanjang Jalan Kenangan: Sukabumi Tahun 80-90an (Bagian 3)

×

Sepanjang Jalan Kenangan: Sukabumi Tahun 80-90an (Bagian 3)

Sebarkan artikel ini
kang-warsa

Kemudian, kita kembali menjadi manusia nyata, manusia yang hidup di zaman sekarang. Jalan-jalan protokol tidak lagi serupa dengan pembuluh yang mengalirkan darah segar. Ia telah dialiri oleh gumpalan lemak dan zat yang dapat menyumbat aliran darah.

Jalan yang tidak sehat karena jumlah kendaraan bermotor tidak sesuai dengan kapasitas dan daya tampung jalan di waktu normal, disempurnakan oleh lahan parkir sepeda motor, ditambah juga dengan jumlah pengunjung yang membludak, maka situasi tidak sehat pun tercipta.

Bank bjb Tandamata

Seperti tubuh yang mengalami penyumbatan saluran darah, pengunjung dari kampung tidak lagi datang ke kota untuk menikmati suasana yang berbeda dengan tempat asalnya. Mereka tidak mengunjungi ruang-ruang publik seperti alun-alun, tempat hiburan, dan lapang merdeka untuk melihat “wah-“nya sebuah kota.

Para pengemudi juga seolah-olah dipaksa untuk mengegas -bukan hanya kendaraan saja- juga emosi mereka. Tak jarang hanya karena suara klakson dibunyikan, satu pengemudi dengan pengemudi lainnya beradu mulut hingga adu jotos.

Coba kita saksikan, fenomena sosial harus serba cepat sangat kentara di dekat lampu rambu lalu-lintas. Di saat lampu merah masih menyala kemudian berubah menjadi oranye, rata-rata pengemudi menyalakan klakson mereka karena merasa terhalangi oleh pengemudi yang ada di bagian depan. Saat lampu oranye menyala, para pengemudi enggan menunggu lampu hijau menyala, terobos saja.

Dilihat dari sudut pandang kesehatan mental dan sosial, situasi ini memang disebabkan oleh gesekan antar molekul yang semakin kuat. Kemacetan di jam sibuk menjadi hal lumrah, sumpah serapah dan mengomel, sambil menyetir mobil -hatta di dalam mobil ada anak-anak pun- bukan menjadi hal tabu. Cara dan perilaku saling mendahului dan kasar menjadi lumrah, maka dalam kehidupan pun kita lebih memilih bersikap permisif saat ada beberapa anak melafalkan kata-kata kasar, alasannya: sudah lumrah dan wajar.

Manusia modern memang terlalu memikirkan bahwa kesehatan seolah-olah hanya terbatas dengan tidak mengonsumsi makanan berkolesterol dan mengandung lemak  tinggi. Atau, bagi kaum laki-laki, tidak sehat itu selalu diukur dengan “merokok”. Sementara itu, yang nyata dan menjadi fakta yaitu emisi kendaraan bermotor yang sangat tinggi dan telah menghasilkan kualitas udara yang buruk, luput dari bahasan.

Dulu, untuk mengukur kualitas udara Kota Sukabumi dapat dilakukan dengan tanpa menggunakan teknologi purwarupa buatan manusia. Hanya dengan kehadiran kunang-kunang saja, kita sudah dapat menyimpulkan kualitas udara di Kota Sukabumi masih bersih. Sekarang, apa yang dapat mengukur kualitas udara? Tentu saja kehadiran alat pengukurnya, pemerintah saat ini harus menyediakan alat semacam ini sebagai peringatan bagi pengunjung pusat perkotaan.

Indikator kebersihan dan kekotoran udara sangat kentara, begitu berbeda. Indikator udara bersih hanya dengan mengandalkan makhluk bernama kunang-kunang. Saya pikir dinas atau badan mana pun tidak akan ada yang berani memasukkan kunang-kunang ke dalam program pengadaan barang dan jasa.

Berbeda dengan alat untuk mengukur kualitas udara kotor; bukan saja alatnya yang harus dibeli, penganggaran, lelang, dan pengadaannya juga melalui proses panjang. Namun, kenapa manusia lebih memilih menghadirkan kualitas udara kotor yang mahal penanganannya daripada menciptakan kualitas udara bersih yang tidak perlu menggunakan anggaran dalam pembuktiannya? ***