Sampai saat ini, citra sekularisasi masih dicurigai sebagai konsep menakutkan oleh sebagian pihak. Kendati telah ada beberapa penjelasan yang lebih bijak tentangnya, bahwa sekularisasi dimaksudkan agar ilmu pengetahuan benar-benar bekerja sesuai dengan garapannya, menelaah kajian yang memang seharusnya diteliti. Ilmu pengetahuan dipandang sekular karena menihilkan konsep keilahian dalam kajiannya, meskipun pada praktiknya para saintis juga tidak pernah lepas dari konsep-konsep yang abstrak.
Saat ini, konvergensi antara ilmu pengetahuan dan kaweruh sudah menjadi satu keharusan. Kita dapat mencontoh ledakan pemikiran para sarjana Muslim di abad pertengahan dan laku hidup para leluhur Nusantara Kuno yang mampu menyajikan ilmu pengetahuan ke dalam kehidupan dan mengendapkan sikap kontemplatif melalui pangaweruh agar individu-individu dapat hidup dalam kedamaian batin.
Pekan Olahraga dan Seni Pondok Pesantren (Pospeda) menjadi salah satu cara penting membuka kembali kesadaran para santri, termasuk kita, tentang universalitas nilai dalam kehidupan yang tidak boleh dipisahkan secara dikotomis. Sejarah pendirian sekolah-sekolah umum di masa Hindia Belanda memang dimaksudkan oleh Belanda untuk menyaingi lembaga pendidikan tradisional pesantren dan padepokan. Walakin, dari pendirian sekolah-sekolah umum di masa Politik Etis oleh Belanda ini juga, bangsa kita mampu mengadaptasi pengetahuan umum menjadi modal dasar untuk mewujudkan cita-cita tertinggi bangsa.
Apalagi, penyelenggaraan Pospeda 2024 ini berdekatan dengan peringatan Hari Santri. Maka, semangat dan ruh Resolusi Jihad, ikhtiar untuk meminimalisasi potensi-potensi kejelekan dapat diendapkan dalam diri para santri sekaligus atlet dengan sportivitas, akhlakul karimah, dan persahabatan. ***





