ARTIKEL

Penyelarasan Penataan Perkotaan dengan Rencana Pembangunan Nasional

×

Penyelarasan Penataan Perkotaan dengan Rencana Pembangunan Nasional

Sebarkan artikel ini
kang-warsa

Masyarakat Kota Sukabumi harus menyadari bagaimana menciptakan lingkungan investasi yang nyaman bagi para investor, memiliki kesanggupan bagaimana mengenali diri sendiri dan lingkungan sekitar tentang indikator kemiskinan, melakukan upaya pelestarian lingkungan, dan memikirkan lebih jauh proses dan dampak alih fungsi lahan dari pertanian dan lahan terbuka hijau menjadi pemukiman.

Kedua, Pemerintah Kota Sukabumi harus mulai memberikan pemahaman tentang periodisasi rencana pembangunan daerah yang akan berlangsung selama dua dekade, mulai dari tahapan penyiapan fondasi, tahapan akselerasi transformasi pembangunan, tahapan ekspansi global, dan tahapan perwujudkan Indonesia Emas 2045.

Bank bjb Tandamata

Tanpa diperkenalkan terhadap pentahapan pembangunan selama dua dekade, maka penyusunan rencana pembangunan daerah juga dikhawatirkan tidak tepat sasaran justru akan kembali pada pembangunan yang tumpang-tindih, membangun kembali apa yang memang sudah tidak perlu dilakukan.

Ketiga, sejak kepemimpinan Wali Kota Muslikh Abdusysukur, pembangunan di Kota Sukabumi telah diprioritaskan pada tiga sektor; pendidikan, kesehatan, dan daya beli. Ketiga komponen ini dapat menjadi penyangga keutuhan lingkungan urban.

Walakin, pencapaian peningkatan tiga komponen ini tidak harus mengorbankan sektor-sektor penting dalam kehidupan, seperti ketersediaan lahan pertanian, lahan terbuka hijau sebagai daya dukung penyediaan udara bersih, dan lingkungan sosial masyarakat tradisional sebagai penyangga entitas tradisi luhur masyarakat.

Pendidikan harus diarahkan pada program bagaimana para siswa memahami kembali kearifan lokal, membangun wawasan lingkungan, bukan sekadar dipusatkan mengenalkan mereka pada budaya dan wawasan global namun menggerus tradisi lokal.

Ketiga hal di atas hanya sekelumit saja dari beberapa hal penting yang harus disiapkan dan dimiliki oleh sebuah komunitas sebelum mereka melangkah lebih jauh merencanakan pembangunan wilayahnya sendiri.

Tanpa peran serta atau partisipasi masyarakat yang benar-benar mengenal secara baik bagaimana cara memperlakukan kotanya sendiri, maka pembangunan akan tetap saja serupa dengan apa yang telah dilakukan selama ini.  Dan kalibrasi rencana pembangunan antara daerah dan pun akan tidak pernah tercapai. ***